Untuk sekian detik, saya benar-benar terpana. Berdiri terpaku melihat benda-benda di samping lift yang --sumpah mati—baru pertama saya lihat. Entah berapa detik saya diam terkesiap, sampai seorang pria mengagetkanku, "Mau naik pak?" Gagap saya menjawab, "Iy... iy... iya.... naik pak."
Pria tadi langsung mencabut satu tusuk gigi dan menekankannya di tombol up lift. Ooo... rupanya, itu maksud semua benda itu. Tusuk-tusuk gigi sebagai pengganti telunjuk.
Untuk menekan tombol, cabut satu tusuk gigi, dan tusukkan ke tombol up atau down pada pintu lift. Usai itu, buang ke gelas kertas yang menggantung di styrofoam.
Masuk ke dalam ruang lift. Benda-benda serupa ternyata juga ada. Tusuk gigi untuk menusuk nomor lantai yang hendak dituju. Di ruang lift, ada lagi yang baru, yakni stiker berisi pemberitahuan maksimal penumpang lima orang. Meski, lift itu berkapasitas belasan.
Pria tadi menusuk nomor 3. Di lantai 3 dia keluar. Saya masih tujuh lantai lagi. Dengan tusuk gigi yang saya ambil di pintu luar tadi, saya sudah menusukkannya ke nomor 10. Di sana sudah menunggu sahabat saya, Egy Massadiah, Tenaga Ahli Kepala BNPB Bidang Media, yang juga anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.
Bayangkan, sudah tiga minggu tidak pulang. Sehari-hari bekerja keras "berperang" melawan virus yang tak tampak mata.
Teringat styrofoam dengan tusuk-tusuk gigi yang menancap tadi, seketika teringat lukisan seorang bocah tentang wajah corona yang sudah diperbesar jutaan kali. Alhasil, saat saya pamit pulang, di depan pintu lift lantai dasar, saya sudah bisa tersenyum memandang styrofoam dengan tusuk-tusuk gigi tadi.
"Sebuah seni instalasi yang indah," batinku.(Ranti Kartikaningrum/Hms/MR)
Editor : Berita Minang






