Menurut Devid, secara tematik Wesvae memiliki irisan kuat dengan semangat kritik yang diusung Festival Sastra Marah Roesli. Keduanya sama-sama merespons isu kebencanaan, ketimpangan sosial, serta ironi yang muncul di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.
“Tema ‘Hulu’ tidak hanya bicara soal geografis, tetapi juga tentang sumber persoalan. Ini sejalan dengan kritik sosial yang dibangun dalam festival sastra,” kata Devid.
Sementara itu, Festival Sastra Marah Roesli digelar selama empat hari, mulai Rabu hingga Sabtu, 17–20 Desember 2025, dengan pusat kegiatan di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat. Festival tahun ini mengusung tagline “Negeri (dan) Ironi” yang merefleksikan kondisi sosial, budaya, dan kebangsaan melalui perspektif sastra.
“Nama Marah Roesli kami angkat sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang meletakkan dasar sastra modern Indonesia dan berupaya menguatkan jenama Padang sebagai Kota Sastra,” ujar Ade F Dira yang juga seorang penulis sastra ini.
Editor : Marjeni Rokcalva






