Agar dapat berjalan dengan baik dan lancarnya rapat diseminasi audit kasus stunting, DP3AP2KB hadirkan narasumber dari para ahli, yakni dokter anak dan kandungan, psikolog, dan ahli gizi.
Sementara itu, kepala DP3AP2KB Agustion menyampaikan jika diseminasi audit kasus stunting berlangsung untuk mewakili dari kasus-kasus yang tergolong berat daripada indikasi Stunting yang terjadi, dimana dalam kegiatan tersebut DP3AP2KB membawa empat sampel indikasi Stunting, yakni tiga balita dan satu ibu hamil.
"Disini kita akan melihat sampai sejauh mana faktor yang mendominasi dari pengaruh atas kendala penyebab indikasi Stunting ini," ungkap Agustion.
Terkait dengan mekanisme dalam audit kasus Stunting yang dilakukan, DP3AP2KB meminta data ke setiap Puskesmas terkait data indikasi kasus Stunting yang tergolong berat dan kompleks, dan data dari Puskesmas yang diterima disaring lagi untuk diaudit lagi untuk ditetapkan yang tergolong berat, dan diambil empat sampel yang tergolong berat dan dengan tujun agar para sampel ini nantinya dapat terlepas dari kategori Stunting," ungkap Agustion.
Dalam penanganan Stunting, Agustion ungkapn jika DP3AP2KB akan fokuskan dalam aspek pencegahan dan preventif.
"Preventif disini kita akan dengan maksimal akan melakukan pendampingan terhadap kelurga yang berisiko terdampak Stunting, dimana pendampingan ini akan difokuskan dari para calon pengantin, ibu hamil, melahirkan, dan balita," bebernya.
"Dimana aplikasi SIPENTING ini merupakan sebuah website yang dikembangkan oleh pemerintah kota Payakumbuh dalam penanganan stunting. Setiap data sasaran dan semua intervensi dilaporkan dalam aplikasi ini," ungkap Agustion.
Dengan didukung SIPENTING ini, Agustion optimis capaian penurunan angka Stunting di kota Payakumbuh dapat berjalan dengan lancar dan lebih cepat serta efisien.
Adapun target dari kegiatan diseminasi audit kasus Stunting tersebut nantinya kota Payakumbuh di akhir tahun 2024 akan mengalami penurunan angka stunting menjadi 14 persen.
Editor :






