BUKITTINGGI - Sangat disayangkan aksi ratusan mahasiswa Universitas Fort de Kock yang menggelar demo ke Balaikota menolak peluang dialog yang ditawarkan Pemko Bukittinggi.
Ratusan mahasiswa Universitas Fort de Kock itu melakukan orasi di depan gerbang Balaikota Bukittinggi, Rabu (05/07). Mereka meminta Pemerintah Kota Bukittinggi mengembalikan sertifikat tanah yang saat ini telah ditempati kampus Universitas Fort de Kock.
Dalam orasinya, mahasiswa meminta Pemerintah Kota Bukittinggi mengembalikan sertifikat tanah lokasi kampus Universitas Fort de Kock di Kelurahan Manggis Gantiang. Karena, pemko telah dinyatakan kalah dua kali dalam persidangan di Mahkamah Agung.
"Kami menuntut Pemko Bukittinggi kembalikan sertifikat tanah kampus kami. Sesuai fakta, Pemko telah kalah dua kali di MA, seharusnya Pemko menyerahkan sertifikat tanah yang seharusnya menjadi milik Universitas Fort de Kock," ungkap Akbar, salah satu mahasiswa Universitas Fort de Kock dalam orasinya.
Dalam aksi itu, mahasiswa meminta bertemu langsung dengan Wali Kota Bukittinggi Erman Safar, Namun tidak berhasil, karena Wako sedang berada di luar daerah,yaitu di Palembang mengikuti kegiatan puncak peringatan Harganas ke 30 untuk menerima penghargaan
Pada kesempatan itu, Martias Wanto, menjelaskan, tuntutan mahasiswa untuk menghadirkan Wali Kota, tidak bisa dipenuhi, karena wako tidak berada di Bukittinggi.
"Bapak Wali Kota Bukittinggi sedang berada di Palembang mulai Hari Senin sampai Jumat, untuk menerima penghargaan dari BKKBN," jelas Sekda.
Terkait permintaan mahasiswa untuk membawa sertifikat, Sekda menegaskan, hal itu tidak bisa dilakukan.
Untuk itu, Pemko sediakan waktu dan tempat untuk berdialog dengan 25 orang perwakilan Mahasiswa. Namun, mahasiswa menolak dengan perwakilan dan meminta dihadirkan seluruh mahasiswa yang demo masuk ke ruangan dialog.
Editor :






