SAWAHLUNTO- Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sungai Durian, Kelurahan Durian II, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat, terus berinovasi untuk merestorasi peningkatan pelayanannya sebagai Puskesmas inklusi dengan memanfaatkan peluang berbeda dari Puskesmas lainnya.
Hal ini tergambar dari pola dan sistim yang diterapkan manajemen Puskesmas Sungai Durian ini dalam penerapan sistim pelayanan one stop service dan home care khusus bagi kalangan penyandang disabilitas dan kaum lanjut usia (lansia) yang berada di wilayah kerja Puskesmas yakni, Kelurahan Saringan, Kel. Lubangpanjang, Kel.Durian I, Kel.Durian II dan Desa Santur.
drg.Yuliana Sari, kepada beritaminang.com kematian siang (11/1/2023) mengemukakan, selaku Pimpinan Pukesmas, dirinya selalu mengedepankan perlunya membangun komunikasi dan koordinasi baik internal maupun eksternal dalam mendukung pelaksanaan program unggulan yang harus dicapai sebagai Puskesmas BLUD.
Pelayanan Khusus Disabilitas
Menurut dia, menyoal pelayanan khusus terhadap para penyandang disabilitas dan lansiai harus diberlakukan secara khusus seperti melayani dengan pola home care bagi masyarakat disabilitas dan one stop service bagi lansia dan disabilitas.
Menurut Yuliana Sari, diwilayah kerjanya terdapat terdapat sekitar 39 orang warga berkebutuhan khusus yang harus menjadi perhatiannya. Angka tersebut ditambah dengan 17 penyandang disabilitas dari SLB Rumah Tia dan 5 orang lagi dari SLB I Sawahlunto, dan seluruhnya telah memperoleh kartu sasaran bekerjasama dengan Bank Nagari.
Kartu sasaran disabilitas yang dibagikan memiliki barkot dan berfungsi sebagai media edukasi tentang teknik fisioterapi serta bagaimana perawatan gigi yang baik bagi para penyandang cacat, karena didalam kartu ada materi tutorial yang dapat dipraktekkan secara praktis.
.
"Pelayanan dan inovasi yang kami bangun dan kembangkan harus berbeda sebagai Puskesmas BLUD. Prakteknya juga harus dapat memberikan rasa nyaman dan dinamis bagi setiap pasien yang ingin memperoleh pelayanan Puskesmas. Kalau pelayanan terhadap pasien umum dan lansia sudah menjadi hal yang lazim dilakukan sesuai SOP, namun penanganan terhadap penyandang disabilitas harus jadi perhatian khusus." Ungkap Yuliana Sari, dokter gigi jebolan FKG Universitas Baiturrahman angkatan 1998 ini.
Editor :






