Aia Aka Minuman Berkhasiat Tradisional Minangkabau

KULINER-303 hit

Minangkabau selain dikenal dengan adat istiadatnya yang kental, juga dikenal dengan beraneka ragam kuliner tradisional yang tersebar di seluruh wilayahnya. Jika kita berbicara kuliner khas tradisional, tidak hanya bicara makanan seperti rendang yang sudah mendunia, tapi juga ada minuman. Salah satu minuman tradisional Minangkabau yaitu aia aka atau juga biasa disebut dengan sebutan ubek tawa. Meskipun tidak sepopuler minuman teh talua, aia aka ini juga sangat mudah ditemui jika kita berkunjung ke Sumatera barat. Karena saat ini masih banyak orang yang menjualnya.

Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya, tradisi, dan adat istiadat memiliki beraneka ragam makanan dan minuman tradisional yang tersebar hampir di seluruh daerah di Indonesia. Tidak terkecuali di Minangkabau. Masyarakat Minangkabau memiliki kehidupan sosial yang khas, yaitu banyak mencontoh dan berguru kepada alam serta memanfaatkan alam sebagai medium pembelajaran.

Seperti ungkapan yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Minangkabau "Alam Takambang Jadi Guru". Ungkapan ini dimaksudkan bahwa alam adalah guru bagi kehidupan, walaupun sedikit yang diperoleh ketika sampai di tangan masyarakat minangkabau, dapat dikembangkan sebanyak dan seluas-luasnya. Selain itu masyarakat Minangkabau juga merupakan masyarakat yang hidup rukun, penuh rasa kekeluargaan dan saling tolong menolong antar sesama.

Masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah Alam Takambang Jadi Guru, artinya alam adalah guru bagi kehidupan. Jelas terlihat dari bagaimana masyarakat belajar dan memanfaatkan alah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu tidak heran lagi jika banyak ditemukan minuman tradisional yang terbuat dari racikan daun-daun, dari akar, dari sari pati tumbuhan lainnya.

Salah satunya yaitu minuman aia aka. Meskipun secara harfiah ke bahasa Indonesia aia aka ini berarti air akar, namun bahan dasar yang digunakan dalam pembuatannya adalah sari pati daun cincau yang didiamkan sampai mengental. Bahan-bahan lain yang digunakan juga berasal dari tunbuh-tumbuhan. Umumnya proses pembuatan aia aka ini masih secara tradisional tanpa menggunakan sedikitpun bahan kimia. Pertama daun cincau dicuci dan dipisahkan dari tangkainya kemudian daun yang sudah dicuci dimasukan ke dalam wadah dan ditambahkan dengan air.

Setelah itu daun cincau diremas sampai air berubah menjadi warna hijau, kemudian di saring dan didiamkan hingga mengental seperti jelly. Aia aka ini bisa dinikmati sesuai selera masing-masing dengan tambahan lain, seperti telur, gula merah, air daun kacang, santan, dan asam. Masyarakat Minangkabau percaya bahwa minuman aia aka ini membawa banyak khasiat terhadap kesehatan. Diantaranya, meredakan panas dalam dan menghilangkan perut kembung. Rasa aia aka yang menyegarkan juga sangat cocok dijadikan menu untuk berbuka puasa.

Untuk harga yang ditawarkan untuk satu gelas minuman aia aka ini terbilang cukup murah dan beragam, berkisar antara Rp4.000 sampai Rp10.000, tergantung campuran yang digunakan.

Jika kita bekunjung ke tanah Minang kita akan sangat mudah menemukan minuman aia aka ini, karena pada umumnya minuman aia aka ini tersebar diseluruh wilayah Minangkabau. Terutama di pusat-pusat keramaian, seperti pasar kuliner. Ada juga yang dijajakan menggunakan gerobak dan ada yang ditawarkan dari satu rumah ke rumah lain. (***)

By: Rido Ilham (Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru