Pertahankan Tanah Ulayat, 6 Pemuda Malalo Ditahan Polres Padang Panjang

PADANG PANJANG - Malalo Nagari Gadang, Hari Salasa Pakan Balainyo, Kok Harato Diambiak Urang, Nyao jo Badan Taruhannyo.

Itulah sebait pepatah yang tertuang dalam Tambo Alam Malalo Tigo Jurai.

Pepatah ini jugalah yang menjadi semangat bagi pemuda asal Malalo untuk mempertahankan tanah ulayat mereka yang dirampas oleh mafia tanah, hingga menyebabkan 6 pemuda ditahan Polres Padang Panjang.

Baca Juga


Tokoh masyarakat Malalo, Nojirfa H kepada media menguraikan, kejadiannya berawal tanggal 12 Oktober 2020 lalu. Dimana sekelompok orang melalukan pemagaran kawat berduri dan memasang plang proyek di tanah ulayat masyarakat Malalo.

Tak ayal beritapun heboh dan beredar di dua kewalian Nagari Malalo Tigo Jurai bahwa ada orang yang sedang memasang pagar dan plang proyek di wilayah ulayat Malalo. Setelah dikroscek ternyata kegiatan itu tanpa sepengetahuan ninik mamak atau pemerintahan nagari.

"Kegiatan itu adalah kelakuan sekelompok orang suruhan dan bayaran mafia tanah dari nagari sebelah yang mengklaim dan mensertifikatkkan tanah ulayat masyarakat Malalo secara sepihak. Padahal tanah tersebut sedang dalam perkara perdata di PN Padang Panjang," ungkapnya kepada wartawan beritaminang.com, Selasa (2/3/2021).

Ditambahkannya, Wali Nagari Padang Laweh Malalo telah berusaha meleporkan kejadian itu kepada Kapolsek Batipuh Selatan agar bisa menghentikan kegiatan itu, karena di Nagari Malalo masyarakat sudah hebo., Namun sayangnya jawaban Kapolsek malah mengatakan kegiatan itu legal bukan malah menghentikan.

"Karena kegiatan pemagaran dan pemasangan plang proyek itu tidak juga berhenti maka kemarahan masyarakat Malalo terutama anak-anak muda sebagai Paga Nagari tidak terbendung lagi, mereka mendatangi tempat keadian dan mengusir para pekerja," jelas Nojirfa.

Malang tak dapat ditolak, entah siapa yang memulai dan entah siapa yang melakukan, 11 motor pekerja yang ditinggal pergi terbakar. Namun yang jelas pada saat kejadian ada aparat keamanan yang menyaksikan.

"Tanggal 14 Oktober 2020 dilakukan mediasi di Kantor Polres Padang Panjang, dengan kesepakatan agar semua pihak menahan diri," tambah Masnaidi dari Pemerintahan Nagari Malalo.

Lalu tanggal 02 Desember 2020, lanjut Masnaidi, Petugas Polres Padang Panjang menangkap seorang pemuda Malalo bernama Nanda yang bekerja sebagai tukang ojek. Petugas pura-pura menumpang ojeknya dari Malalo dan sesampai di wilayah Tanjung Barulak, Nanda sudah ditunggu oleh petugas lainnya dan langsung ditangkap.

Saat penangkapan sepeda motor Nanda dibiarkan di jalan dan Nanda dibawa memakai mobil ke Polres Padangpanjang. Kemudian tanggal 6 Desember 2020 polisi berkekuatan dua mobil Dalmas dengan senjata laras panjang, satu mobil patroli dan satu mobil minibus datang ke Malalo dan menangkap semua pemuda yang berada di pinggir jalan tanpa pandang bulu. Saat itu, 11 orang pemuda ditangkap termasuk tiga orang yang masih di bawah umur (siswa SMP).

Warga Malalo sangat terkejut dan ketakutan. Kemudian 12 orang warga Malalo dibawa ke Polres Padang Panjang dan diinterogasi hingga tengah malam. Beberapa orangtua dari Malalo datang ke Polres untuk mengantarkan pakaian untuk anak-anak mereka yang Ketika ditangkap saat akan pergi mandi ke danau.

Tanggal 7 Desember 2020 6 orang termasuk 3 anak di bawah umur dilepaskan karena dianggap polisi tidak terlibat, sedangkan yang 6 orang lagi tetap ditahan polisi.

"Dari pengakuan ke 6 pemuda ini tidak satupun mereka yang melakukan pembakaran itu, kalau hadir iya karena ini adalah panggilan hati anak nagari, namun sampai hari ini sudah lebih 2 bulan mereka masih ditahan di Polres Padang Panjang dan belum juga dilimpahkan tahap 2 ke kejaksaan," ungkap R Dt Sarikan, ninik mamak nagari setempat.

Ke 6 pemuda Malalo yang masih ditahan itu adalahM aifirnanda, Hendra Fahmi, Mustafa Kamal, Suryanto, Sutrisno Prakas Anugrah dan Yulian Doni Amalo.

"Hukum memang harus ditegakkan, tapi haruslah adil. Mereka yang mempertahankan haknya kok malah diproses, sedangkan penyebab yang mereka lakukan orang yang merampas tanah ulayatnya kenapa tidak diproses," tanya R Dt Sarikan. (rls)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru