Hutan Pelindung PLN Untuk Manusia Dan Penyu

PARIWISATA-200 hit

SUMATERA BARAT -Urang gilo (orang gila-red) begitu masyarakat menamai sekelompok pemuda di Nagari Ampiang Parak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, karena mereka mencoba membuat hutan dengan menanam pohon di sepanjang 2,7 km garis pantai yang gersang dan panas.

Memang gila! Jika di negara lain para aktivis dan pegiat lingkungan berjuang melindungi hutan yang sudah ada, para pemuda di Ampiang Parak justru membuat hutan pelindung bagi masyarakat dari ancaman gelombang pasang dan hutan tempat bertelur bagi penyu.

Haridman, inisiator terbentuknya Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) bercerita, bagaimana ia mengumpulkan masyarakat dan memberikan penjelasan tentang perlunya merintis sebuah kawasan yang gersang menjadi ruang terbuka hijau.

Baca Juga


Tahun 2013 kelompok berdiri dan mulai menanam mangrove jenis rhizopora dan cemara laut (australian pine/beach she-oak), tanaman multifungsi ini sangat cocok ditanam di wilayah pasang surut dan vegetasi pantai, sambung Haridman.

PLN Berikan Dukungan Infrastruktur

https://www.beritaminang.com/photos/foto/foto-hutan_foto1_230221094050.jpeg

Pengunjung menyebrang ke kawasan hutan pinus tempat konservasi penyu, Rabu (28/3/2018). Dukungan infrastruktur PLN memudahkan anggota laskar merawat pohon pinus dan merawat penyu. (Beritaminang/Adi Prima)

PLN wilayah Sumbar menunjukkan kepedulian kepada kegiatan melestarikan lingkungan dan perlindungan satwa langka. Empat kali Corporate Social Response (CSR) PLN diberikan untuk pembangunan dermaga boat, kolam penangkaran penyu, rumah baca dan infrastruktur lainnya di kawasan ekowisata guna mempermudah akses laskar merawat penyu dan menjaga hutan pelindung.

Pemberian dana CSR kepada laskar bukan tanpa alasan, hampir di seluruh dunia digiatkan program penanaman pohon, tapi, pohon yang berhasil tumbuh hanya bisa dihitung jari. CSR pertama PLN diberikan tahun 2017 senilai Rp 236 juta, kedua tahun 2018 senilai Rp 126 juta, yang ketiga tahun 2019 senilai Rp 227 juta dan tahun 2020 senilai Rp 47 juta.

Mangrove Dan Cemara Tumbuh Penyu Makin Banyak Bertelur

https://www.beritaminang.com/photos/foto/foto-hutan-pelindung_foto2_230221094050.jpeg

Anggota laskar memberi makan anak tukik yang baru menetas di kolam penangkaran sebelum melepaskannya kembali ke laut, Rabu (28/3/2018).(Beritaminang/Adi Prima)

Hewan air seperti biawak, keong, ikan dan bangau mulai datang ke taman mangrove. Daun dan urat mangrove merupakan antibiotic alami bagi hewan air yang terluka. Dikutip dari LIPI, 1 hektar tanaman mangrove dapat menyerap emisi karbondioksida setara 59 sepeda motor per tahun.

Pohon cemara tumbuh penyu semakin nyaman naik ke pantai untuk bertelur. Selain mengawasi dan merawat vegetasi pantai, kelompok juga memberikan perlindungan terhadap penyu.

Di dunia ada tujuh jenis penyu, enam terdapat di Indonesia, Penyu hijau (Chelonia mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu pipih (Natator depressus) dan Penyu tempayan (Caretta caretta).

Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN), penyu sisik masuk ke daftar spesies yang sangat terancam punah. Sedangkan penyu hijau, penyu lekang dan penyu tempayan, digolongkan terancam punah.

Wisata Edukasi Dan Tempat Penelitian

https://www.beritaminang.com/photos/foto/foto-hutan-pelindung_foto3_230221094050.jpeg

Pengunjung melepaskan anak tukik yang baru menetas ke laut di kawasan ekowisata penyu, Selasa (16/7/2019). Melepas tukik ke laut merupakan salah satu paket wisata edukasi yang ditawarkan kepada pengunjung.(Beritaminang/Adi Prima)

Kawasan ekowisata penyu menjadi tempat penelitian penyu. Selain itu, pengunjung yang peduli lingkungan bisa berdonasi Rp 30.000 dan melepas satu ekor tukik ke laut.

Bonus lain, nagari yang dihuni lebih dari 9.242 jiwa, sekarang memiliki benteng hutan cemara dan taman mangrove ketika ada ancaman gelombang tinggi. Nagari Ampiang Parak termasuk zona merah atau rawan ancaman bencana seperti abrasi, badai dan tsunami.

Komunitas urang gilo boleh berbangga, roda perekonomian nagari menggeliat, warung milik warga tumbuh dan berjejer menyambut pengunjung. Warga juga tidak lagi berburu telur penyu, jika menemukan telur penyu warga memberikannya kepada komunitas.

Atas kepedulian PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumbar tentang pengembangan keanekaragaman hayati dengan kegiatan CSR, mereka memperoleh penghargaan Indonesia Green Awards (IGA AWARDS) 2020. Tahun 2020 Laskar Pemuda Peduli Lingkungan juga menerima plakat dari Presiden RI, mereka masuk nominasi peraih Kalpataru.

Namun, pandemi COVID-19 membuat kunjungan wisatawan turun, aktivitas di kawasan ekowisata penyu juga dibatasi. Pengunjung yang ingin melihat hutan pinus pelindung dan taman mangrove, harus menunggu sampai pandemi berlalu. (Beritaminang/Adi Prima).

Loading...

Komentar

Berita Terbaru