Memandang Pagi di Kampung Tami di Lereng Gunung Singgalang

SELINGAN-252 hit

TIBA-TIBA aku tertegun melihat hamparan sawah dan ladang yang seakan menyatu dengan Gunung Singgalang ketika menuruni jalan menuju Kampung Tami, dari persimpangan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gunung, di Kelurahan Gantiang, Kecamatan Padang Panjang Timur, Minggu (6/12/2020). Sebuah pemandangan indah di kala pagi yang sedikit mendung, beberapa waktu lalu.

Aku hentikan langkah kaki, dan aku hampiri tepian jalan menurun itu, sembari mengambil sejumlah foto. "Masya Allah," Lama aku pandangi lukisan alam, ciptaan Allah yang membuat aku bersyukur sebagai makhluk-Nya.

Saat "zoom" kamera mengarah ke sebuah ladang, terlihat jelas dua orang petani memetik cabai. Aku tergoda menghampiri lebih dekat. Langsung saja aku turun menapaki pematang sawah. "Dua orang wanita rupanya,", gumam ku dalam hati.

"Izin buk, boleh ambil foto," Bila tak berkenan, aku tak akan melakukannya. Namun dua wanita itu memperbolehkan. "Silahkan tak apa-apa," jawabnya

Satu orang petani berperawakan muda dan yang satu lagi sudah paruh baya. Ialah Emi bersama ibunya yang sedang memetik cabai keriting. Hasil panen hari itu menggembirakan hatinya. " Hari ini Alhamdulillah " katanya

Emi dan ibunya ternyata berasal dari Paninjauan Kabupaten Tanah Datar. Mereka menggarap ladang milik orang lain dengan sistim bagi hasil. Hal itu telah dilakukan bertahun-tahun.

Emi pun menawarkan hasil panen nya hari itu. " Bawalah cabai ini, gratis," katanya. " Terima kasih buk," Aku menolak secara halus, tak ingin merepotkan.

Selang beberapa lama, aku pamit dan kembali berjalan di sekitar persawahan. Seorang petani berpapasan dengan ku. Perempuan itu membawa rumput diatas kepala. "Buk" sapa ku. Dia menyeringai tersenyum. Senang rasanya melihat keramahan dan alam pagi itu.

Aku kembali mengambil foto. Ketika melirik ke arah samping, aku melihat bocah-bocah asik bermain layang-layang. Gelak tawa menyeruak. Mereka adalah Adit, Rachel, Fakri dan Ilham.

Permainan di alam bebas itu seakan mengobati kejenuhannya bersekolah jarak jauh lantaran Covid-19. Bergantian mereka menerbangkan layangan. "Saya kurang suka main game online, bikin sakit mata om," kata Adit.

" Itu keren" jawab ku memuji anak itu. Aku berbaur bersama mereka.membuat kami semakin akrab. " ini sedikit uang jajan," sembari menyodorkan beberapa rupiah kepada mereka. " makasih Om," senang sekali mereka.

Setelah sekian lama, aku memutuskan menunju jalan aspal yang membentang, membagi dua sisi kampung tami. Disebelah kiri aku melihat persawahan dan Islamic Center. Disebelah kanan hamparan yang sama, bersama Gunung Singgalang yang memandang ku dari kejauhan.

" Padang Panjang yang Indah," aku tersenyum seiring melangkah dan bertanya dalam hati " nanti kemana lagi ya?" (Harris)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru