Pengelolaan Homestay di Bukittinggi Butuh Modernisasi Manajemen

PEMERINTAHAN-203 hit

BUKITTINGGI - Ketua Asosiasi Homestay Kota Bukittinggi, Muhammad Subari, mengatakan, sebelum pandemi Covid-19, tingkat hunian Homestay selalu meningkat, membuat Jumlah Homestay di Bukittinggi bertambah setiap tahun.

Tetapi, selama masa pandemi covid 19 tingkat hunian menurun drastis Keluhan dari pengelola homestay di Bukittinggi rata-rata sama, padahal Homestay yang ada sudah melaksanakan Protap Covid-19, ujar Muhammad Subari dalam ssmbutannya pada pembukaan pelatihan pengelolaan homestay yang dilaksanakan Dinas Parpora Bukittinggi.

Menurut M.Sabri, Kendala utama dari Homestay saat ini adalah jumlah tamu atau hunian. Untuk promosi sudah dilakukan melalui media sosial sudah dilakukan, katanya.

Baca Juga


"Jumlah Homestay di Bukittinggi yang telah terdaftar di Asosiasi Homestay Bukittinggi sebanyak 54 buah. Saat ini, aturan baru tentang bagamana Homestay, jumlah kamar dan sebagainya belum ada," ujar M.Subari.

Menurutnya, peningkatan kompetensi pengelola Homestay kedepan bagaimana pengelola dapat mengedepankan Sapta Pesona dan melengkapi amenitas (kelengkapan Homestay) sesuai standarisasi. Pengelola Homestay harus bersinergi dengan pelaku pariwisata untuk pengembangan produk Homestay dan promosi,tambahnya.

Sementara Kadis. Parpora Bukittinggi Supadria mengatakan Kota Bukittinggi merupakan tujuan wisata, untuk itu masyarakat dan pelaku wisata bisa membaca peluang ini, ujarnya dihadapan 40 peserta pelatihan peningkatan kompetensi pengelola homestay.

Dikatakannya, sektor pariwisata perlu dikeroyok secara bersama. Pembenahan dan peningkatan sangat dibutuhkan terutama manajemen, kelembagaan dan SDMnya.

Pelatihan yang digelar di Hotel Santika Bukittinggi dari 3-5 November 2020,

Dilaksanakan Dinas Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Bukittinggi dengan DAK Non Fisik pelayanan kepariwisataan 2020

untuk meningkatkan kompetensi pengelola homestay.

Menurut Supadria, homestay merupakan salah satu usaha akomodasi yang berbasis pemberdayaan masyarakat di sekitar destinasi wisata. Homestay memanfaatkan rumah tempat tinggal yang disewakan bagi tamu. Istimewanya adalah tamu dapat berinteraksi dengan pemilik Homestay serta beraktivitas sesuai apa yang dilakukan oleh tuan rumah.

Saat ini Homestay semakin menjamur. Ini sangat mendukung sarana prasarana Bukittinggi sebagai Kota Pariwisata. Diharapkan, Melalui pelatihan ini, manajemen pengelolaan homestay harus dikelola lebih modern. Jika homestay berkembang dapat mengantisipasi keluhan pengunjung.

"Kita berharap homestay jangan lagi dikelola secara konvensional. Homestay juga harus mampu menambah daya tarik. Homestay memiliki kelebihan dengan adanya interaksi pengelola dan pengunjung. Walaupun tradisional, manajemen homestay harus lebih modern. Jadi, Homestay juga lebih familiar," ujar Supadria didampingi Sekretaris Disparpora, Nenta Oktavia dan Kabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Suzi Yanti.

Supadria menambahkan akulturasi budaya dan transformasi ilmu juga terjadi di Homestay. Homestay juga lebih fleksibel. Kedepan, pemasaran atau promosi Homestay harus berbasis IT atau digital.

"Karena itu, perlunya peningkatan kompetensi pengelola Homestay di Bukittinggi ini. pengelola bisa memaksimalkan konsep manajemen digital. Untuk itu, kualitas manajemen dan pelayanannya perlu peningkatan.

( Yus).

Loading...

Komentar

loading...

Berita Terbaru