Odartey Lamptey, Kisah Tragis Pemain dengan 13 Klub

OLAHRAGA-115 hit

PERKENALKAN: Odartey Lamptey, anak muda berbakat dan hebat dari Ghana. Di depan namanya, ada kata 'Nii'. Artinya Raja, dalam bahasa lokal.

Soal bakat, Lamptey memang raja. Istimewa. Bayangkan, tahun 1989, dalam usia 14 tahun, sudah beredar di Piala Dunia U16 di Skotlandia meski gagal bawa Ghana lolos dari fase grup.

Pada 1991, usia 16 tahun, ia mentereng: Ghana rebut Piala Dunia U17 di Italia, sikat Spanyol 1-0, dan Lamptey dapat Golden Ball dengan 4 gol. Saat itu, Adriano da Silva (Brasil) dapat Golden Shoes. Turnamen juga melahirkan Juan Sebastian Veron dan Alex del Pierro.

Setahun kemudian, Lamptey dan kawan-kawan menghadiahkan perungu buat Ghana dari ajang Olimpiade Barcelona, setelah kalahkan Australia.

Sebelum itu, sebelum Olimpiade, Lamptey naik pangkat ke tim senior, ikut Piala Afrika 1992 di Dakar, Senegal, bersama senior-senior Ghana macam Anthony Yeboah dan Abedi Pele Ayew.

Ghana tiba di final. Tapi dalam drama 120 menit Ghana menyerah 10-11 dalan drama adu penalti vs Pantai Gading.

Ada lagi, pada 1993, Lamptey ke Piala Dunia U20 di Australia. Hebat, Ghana lolos ke final meski kemudian takluk 1-2 pada Brasil.

Itu, antara lain, yang menjelaskan bahwa Lamptey adalah 'Nii' kalau bicara soal bakat hebat dengan kontribusi hebat. Dia raja.

Padahal, masa kecil Lamptey suram. Ia lahir dari keluarga miskin dengan ayah pemabuk dan sering memukul dia.

Usia 8 tahun, orang tuanya bercerai dan ibunya meniah dan Lamptey dibuan ayah tirinya ke tempat pengungsian.

Kasihan memang. Lamptey tidak dapat pendidikan. Hanya satu yang menyelamatkan: bakat hebat sampai moncer bersama tim yunior Ghana.

Beda Lamptey dengan Ansu Fati tentu soal lingkungan. Fati mulai mengkilap di lingkungan yang benar, La Masia lalu Barcelona hingga, awal Oktober lalu, berani menolak tawaran Manchester United senilai Rp 2,6 Triliun.

Lingkungan Lamptey tidak mendukung. Usia 15 pula, ia nekat naik taksi dari Accra (Ghana) ke Lagos (Nigeria), jumpa kapten Super Eagles Stephen Keshi dan lalu bertualang di Eropa.

Dia kepincut Adriaan de Mos, pelatih Anderlecht. "The next Pele," katanya tentang Lamptey, pemain termuda di Liga Belgia.

Sayangnya, Lamptey jarang dapat menit bermain. Oleh manajer, Lamptey dilego ke PSV Eindhoven, Aston Villa plus sederet masalah.

Lamptey lantas bertualang ke banyak klub di banyak negara dengan beragam cerita fluktuatif karena kekurangpintaran dia. Dari Coventry City, Venezia, Santa Fe, Ancaragucu, Uniao Leiria, Greuther Fuerth, Shandong Luneng, Al Nasr, Asante Kotko dan gantng sepatu pada 2008 bersama Jomo Cosmos.

Total Lamptey beredar di 13 klub dalam interval 16 tahun dan berujung sebagai peternak sapi dan domba di pinggiran Accra!!

Satu yang menarik, sebab pendidikan masalah terbesar di masa kecil-mudanya, ia mendirikan sekolah gratis untuk masyarakat miskin: Glow-lamp International. Ini sekaligus nama akademinya.

"Agar tidak ada lagi anak-anak Ghana yang kurang beruntung lalu kehilangan segalanya setelah besar. Seperti saya..." (***)

Catatan: Hardimen Koto (Wartawan Olahraga)

Loading...

Komentar

loading...

Berita Terbaru