Melandaikan Zona Merah Covid-19, Sawahlunto Butuh Peran Masyarakat

KESEHATAN-158 hit

SAWAHLUNTO - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan corona virus disease (COVID-19) yang juga Walikota Sawahlunto Deri Asta mengemukakan, masuknya Kota Sawahlunto ke zona merah resiko tinggi COVID-19 menjadi pukulan bagi daerah ini. Meski demikian, untuk melandaikannya diperlukan melibatkan semua unsur masyarakat sehingga pandemi COVID-19 dapat ditekan penularannya.

Pernyataan itu disampaikan Deri Asta sebagaimana disampaikan Kabag Kominfo Persandian dan Humas Wiza Andrita saat dikonfirmasi terkait inti press conference yang digelar di Balikota setempat, Selasa (6/10/20) kemarin. Wiza Andrita, biasa dipanggil Bu Rita ini mengutarakan, untuk menyikapi kondisi saat ini dibutuhkan langkah kongkrit bagi setiap individu untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan pola 3M (masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak).

Disampaikan Rita, Dalam kesempatan tersebut wako sempat mempertanyakan kriteria dari pemberlakuan zona merah dari suatu daerah, mengingat, kasus positif COVID-19 di kota Sawahlunto dapat dikatakan lebih sedikit dari Kota/Kabupaten lain, namun mereka tidak dikatagorikan dalam status zona merah. Tetapi pertanyaan itu tidak diperoleh jawabannya untuk disampaikan pihak Humas ke beritaminang.com.

Disisi lainnya , Deri Asta coba menjawab pertanyaan yang menyoroti tentang klaster baru pasar dan perkantoran yang ditanyakan beberapa wartawan. Diakui dia sampai saat ini pemerintah kota terus melakukan himbauan dan tindakan razia masker. Bukan hanya dipasar tapi juga di ruang-ruang publik, dilingkungan perkantoran. Saat ini, tambah Rita, masih diberlakukan work from home dan disetiap kantor harus memiliki alat pengukur suhu tubuh, serta menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir.

Terpisah, berdasarkan laporan Tim Posko COVID-19, Mulya Cahyana, menyebutkan pertanggal 6/10 kemarin terdapat 5 pasien yang sebelumnya terkonfirmasi positif dinyatakan sehat dan dibolehkan meninggalkan pusat karantina BDTBT, dan 1 orang kasus baru positif berinisial "As" dari Desa Rantih. Dia mengalami gejala demam dan sesak nafas komorbit tidak ada, dan sudah di swab tanggal 4 dan 5 Oktober lalu.

Secara kumulatif, jumlah warga yang terpapar virus Cina ini berjumlah 131 orang, suspek 7 orang, sembuh 98 orang. Sedangkan yang di isolasi mandiri 2 orang, karantida di BDTBT 22 orang, dan meninggal 3 orang. (iyos)

Loading...

Komentar

loading...

Berita Terbaru