Ini Cerita Ketua MUI Sijunjung, Tentang Ia dan Keluarga Sembuh Covid-19

KESEHATAN-304 hit

SIJUNJUNG - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sijunjung, Sumatera Barat, H. Hidayatullah,LcMA, salah satu warga yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Berkat upaya penanganan medis dan isolasi diri dan mengikuti prosedur protokol kesehatan ia bersama keluarganya pun sembuh. Berikut simak curhatan hatinya yang viral di media sosial. Berikut, Ini Kisahnya;

"Alhamdulillah, Saya Sembuh dari Covid-19".

"Kami tinggal serumah enam orang dan tiga orang dinyatakan positif Corona dan tiga negatif. Interaksi intens semua. Swab berulang-ulang untuk memastikan. hasilnya tetap begitu," katanya mengawali ceritanya.

Bahkan anak bungsu yang tidur bersama kami tetap negatif walau kami ayah ibunya positif, Kami bertiga yang positif. Satu hanya demam, badan sakit tanpa batuk, indera bau dan rasa normal. Satu lagi, ada batuk, demam, flu, hilang penciuman dan rasa, batuk tidak lama. Yang ketiga; batuk, demam, hilang penciuman dan rasa, batuk cukup lama.

Sembuhnya juga begitu, ada yang seminggu sembuh, dua minggu sembuh, dan ada yang udah tiga minggu masih belum sembuh". (saat saya menulis status ini,.saya dinyatakan sudah sembuh). Kesimpulan saya soal covid, sebagai keluarga Doker dan pasien.

Virus itu ada, bukan hoaks, dengan beberapa catatan:

Pertama: mudahnya menular dan susah menduga dan menebak kapan dan dari siapa. Siapa yang terpapar atau tidak. Karena kami sekeluarga sudah cukup disiplin mematuhi protokol covid selama ini, jika dibanding dengan kebanyakan masyarakat. Cuma memang faktor resiko sangat dekat dengan keluarga kami. Peluang sangat besar.

Salah satunya, tempat tinggal kami di komplek puskesmas. Sebagai seorang dokter, istri berinteraksi dengan macam macam pasien, setiap hari setiap saat. Bahkan disaat zona merah. Ia makin intens dengan pasien corona. Walau menjalankan protap, tentu resiko tinggi.

Peluang lain. Interaksi dengan yang tidak melaksakan protap kesehatan. Faktanya memang banyak masyarakat yang tidak patuh pakai masker. Kita tidak pungkiri berinteraksi cukup banyak dengan yang seperti itu.

"Kadang kitanya juga lalai dan lupa dengan protap kesehatan. Masker dibuka-buka atau jarang cuci tangan".

Maka kalau ada yang mengatakan corona hoaks, atau dia tidak percaya dengan corona, karena ia sehat saja. Padahal kemana mana tidak tidak pakai masker. Selama ini ia tidak peduli dan tidak pernah patuh protap kesehatan.

Mungkin karena belum ketemu sama yang bawa viru saja. Atau antibodi, imun masih sangat baik dan sangat tinggi. Dan pasti karena tidak pernah di tes.

"Nggak usah nantang, atau menyebarkan persepsi sendiri. Karena kita mungkin kuat. Tapi, pertimbangkan orang-orang yang beresiko tinggi.

Kena covid bukan aib. Sakit berobat. mati ajal, tapi jangan konyol..! Sama yang positif nggak usah sinis, kadang hanya soal nasib dan waktu. Sekarang sinis. Nanti positif malu dan meringis".

Proaktif semua diperlukan. Info yang jelas. Alur penanganan yang pasti dan rapi. Support kepada pasien. Support pada keluarga pasien. Komunikasi kepada pasien, keluarga dan masyarakat. Semua pihak, pemerintah, aparat, media, petugas kesehatan, tokoh masyarakat, semua.

Kedua: corona, dia bukan penyakit. dia virus yang dapat memicu sakit atau memperparah penyakit. Maka efeknya bisa ada, bisa beda, gejala juga gak standar atau nggak sama.

Ketiga: efek beda-beda, sesuai kondisi tubuh. Ada yang tidak mempan virus, ada ringan. ada berat.

"Jadi kematian memang bukan karena virus tapi virus memperparah kondisi tubuh yang sakit atau lemah, sehingga bisa membawa kematian"

"Nggak! dia cuma paru, dia hiper tensi saja. kenapa di vonis covid. Kenapa semua orang jadi covid. dia penyakit gula, kenapa tiba-tiba jadi covid..?

Iya, sakitnya gula, hipertensi, paru. Diperparah oleh covid. Maka begitu diperiksa, ketemu virus covid. Matinya disebut mati karena covid, diselenggarakan dengan potokoler covid. Bukan apa-apa covid..apa apa covid".

Sifat virus : ada banyak virus di alam ini. salah satunya corona. sifat virus corona ini bisa menular melalui air liur yang terpecik. Dia tumbuh berkembang kalau masuk terhirup oleh hidung atau mulut kita. kalau tidak masuk mulut/hidung tidak akan tumbuh dan tidak akan menyakiti kita. maka kalau hanya diluar bisa mati sendiri dalam beberapa waktu atau mati karena media sabun , air dan lain-lain.

Maka biar nggak tertular / menghirup air liur yang terpercik jangan dekat-dekat (jarak yang kira bisa kena), tutup mulut dan hidung, cuci tangan biar ada yang terpegang dia musnah sebelum kita mengusap mulut atau hidung.

Kedua: Dia bukan penyakit, tapi virus, yang bisa menyebabkan efek kebadan kita. Ibaratnya dia benda luar, kalau di mengena kita baru ada efek kalau nggak, ya nggak apa-apa.

Efeknya kok beda-beda? atau mungkin bahkan ada yang tidak terjangkit padahal interaksi dengan yang positif. Tergantung kondisi kesehatan kita masing masing. Jika badan sehat, imun kuat. Corona masuk badan nggak ngaruh. Selanjutnya tingkatan efeknya tergantung pertahanan kita. Akan makin parah jika kita punya penyakit lain, penyakit awal atau penyerta. Imun tubuh dapat melawan corona selama kita kuat, tidak ada penyakit lain. Ada yang seminggu sehat atau lebih walau tanpa obat.

Ketiiga : lalu untuk apa terlalu takut kalau tidak semua orang kena, dia bisa sembuh sendiri?. Bukan takut berlebihan, tapi waspada dan pengendalian. Karena ia mudah menular. Siapa saja bisa terkena. yang repot kalau mengena yang RESTI (resiko tinggi) Punya banyak penyakit, sehingga memicu cepat drop. maka mati di sebut karena covid.

Empat: jumlah kematian kan normal saja, sebelum corona orang mati juga karena gula dan sebagainya. Iya, sekarang terasa normal, karena yang terjangkit masih ratusan. Kalau banyak, rumah sakit antri, medis akan kerepotan. Penanganan susah, sehingga pasti ada peningkatan angka kematian.

Begitu! Tapi masih ada yang ngotot berkata: virus hoaks, bisnis, propaganda, "antah iyo antah indak". Saya gak percaya! Ya.. sudah...!!

"Alhamdulillah perhari ini dinyatakan sembuh Covid. Setelah duakali Conversi (duakali test swab, setelah melalui masa isolasi dan pengobatan). Semoga dia pergi untuk selamanya".

Semoga Sahabat, Bapak/Ibuk terhindar dan tak disinggahi si covid ini. Yang sedang dalam pengobatan / karantina segera pulih. Dapat beraktifitas normal kembali. Jangan takut memeriksakan diri lebih cepat tahu lebih cepat teratasi. Mengurangi resiko untuk diri kita dan orang lain.

"Corona bukan aib. sakit berobat. mati ajal. Tapi jangan karena lalai, acuh dan konyol".

Tidak usah sinis sama yang positif. Kadang hanya soal nasib dan giliran saja. Sekarang sinis, besok malu dan meringis. Semoga corona segera berakhir. Aamiin.

Terimakasih doa dan supportnya.

Editor: ius

Sumber: Jurnalsumbar.com

Loading...

Komentar

loading...

Berita Terbaru