P2TP2A Sawahlunto Diharapkaan Lebih Berperan Tekan Angka Kekerasan Perempuan dan Anak

PEMERINTAHAN-184 hit

SAWAHLUNTO - Tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat dari tahun ke tahun, hal ini sangat mengkuatirkan bila terus dibiarkan. Untuk itu, peran lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2) harus lebih maksimal untuk membantu pemerintah dalam menghadapi persoalan tersebut.

Seperti disampaikan Ketua P2TP2A Ny.Neldaswenti Zohirin dalam acara ekspos kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aula Balai Kota Sawahlunto, Senin (7/9/20), grafik tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat dari tahun ketahunnya.

Ditahun ini saja, per Agustus 2020 saja sudah tercatat 29 kasus dengan rincian 3 kasus kekerasan seksual, 16 kasus anak berhadapan dengan hukum, 1 kasus penelantaran anak, 5 kasus kenakalan anak, dan 4 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Jika dilihat perbandingannya, pada tahun ini saja kekerasan terhadap perempuan 4 kasus dan terhadap anak 25 kasus.

Sedangkan ditahun sebelumnya 2019 ada 50 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, jumlah kekerasan terhadap anak selalu tinggi mencapai 38 kasus dan terhadap perempuan 12 kasus seperti, 27 kasus kekerasan seksual, 3 kasus anak berhadapan dengan hukum, 6 kasus penelantaran anak, 2 kasus kenakalan anak, 11 kasus kekerasan dalam rumah tangga, dan 1 kasus kekerasan lainnya.

Jika di refleksikan dari tahun sebelumnya 2018, kasus kekerasan terhadap perempuan berjumlah 34 kasus, dimana kekerasan terhadap anak tetap menempati angka tertinggi 30 kasus, dan kekerasan terhadap perempuan 4 kasus.

Sedangkan pada tahun 2017 mencatatka angka 30 kasus kekerasan terdiri dari 21 kasus kekerasan terhadap anak dan 9 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebagian besar pelaku kekerasan masih berhubungan kerabat dengan korban.

Angka tersebut diatas merupakan data yang diperoleh berdasarkan hasil pengaduan masyarakat ke lembaga P2TP2A. Dari sekian kasus tersebut, ada yang dapat di selesaikan secara mediasi, pendekatan kekeluargaan dan advokasi dengan melibatkan semua unsur terkait baik individu, institusi, lembaga kemasyarakatan, ormas, dan lainnya.

Dari paparan yang disampaikan Neldaswenti, penyebab terjadinya kekerasan diantaranya adalah akibat kurangnya keimanan dan ketakwaan keluarga dalam beragama, kurangnya pengawasan keluarga, pengaruh negatif dari orang lain, salah dalam memanfaatkan alat teknologi komunikasi HP, kurang peduli terhadap pergaulan anak dan kurang pengawasan dalam menggunakan gadget atau HP, serta gaya anak muda yang berpacaran seperti suami istri.

Tingkatkan Sosialisasi

Untuk menekan tingkat kekerasan itu, dibutuhkan upaya sosialisasi keberbagai institusi pendidikan, desa dan kelurahan, kecamatan dan melalui media sosial, kemudian melakukan konseling, pemulihan trauma oleh psikolog yang disediakan P2TP2A, pendampingan khusus, mediasi dan memanfaatkan pusat informasi serta rujukan.

Wakil Walikota Sawahlunto H.Zohirin Sayuti yang hadir diacara tersebut mengatakan, kehadiran dan peran P2TP2A sebagai mitra pemerintah perlu didukung penuh dengan keterlibatan berbagai unsur, baik pemerintah maupun unsur non pemerintah seperti LSM, Ormas, dan lainnya.

"Kita semua tentu berharap berbagai kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak harus bisa ditekan, jika perlu bisa Hilang dari daerah ini. Untuk bisa melakukan itu P2TP2A harus mampu bersinergi dengan berbagai unsur lainnya, agar tantangan meraih kota sayang anak dapat direalisasikan," tutur Zohirin. (iyos)

Loading...

Komentar

loading...

Berita Terbaru