Melirik Gula Semut Aren Lumindai Sawahlunto, Inspirasi Usaha Ditengah Covid-19

EKONOMI-309 hit

SAWAHLUNTO - Namanya Roynaldo, pemuda inspiratif dari Desa Lumindai, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, ini mampu merilis ide brilian memanfaatkan sumber daya alam hayati pohon aren sebagai pendulang rupiah ditengah memuncaknya pandemi covid-19 di tanah air.

Roynaldo, bukan sarjana pertanian dan perindustrian, tetapi pikiran dan spiritnya di alam terkembang mampu menyatukan ide bersama sahabat mudanya Isran Mahyudi, Mardius, dan Zulhijani, dalam memanfaatkan pohon aren sebagai sumber ekonomi produktif ditengah kelangkaan peluang kerja.

Pohon aren, yang bertebaran diberbagai lereng bukit barisan Desa Lumindai yang belum tergarap maksimal kini mulai mendapat perhatian dan tersentuh teknologi, meski masih berskala konvensional tapi kedepan bukan tak mungkin semua itu akan berkembang dahsyat ketika pohon aren bisa menjadi sumber uang.

Air nira, yang diproduksi pohon ini dapat dijadikan gula semut, gula cetak sebagai pemanis tulen minuman kopi, teh, dan minuman lain, serta pemanis alami berbagai varian makanan khas Indonesia lainnya, sedang buahnya jadi kolang-kaling cocok sebagai herbal yang dibutuhkan untuk kesehatan tulang dan pencernaan, sedang pohonnya sebagai sumber sagu, daunnya dapat dijadikan bahan baku anyaman lidi berbagai jenis cendera mata.

Kepada beritaminang.com Roynaldo dan Isran bercerita, inspirasi mereka muncul ketika pohon aren yang tumbuh di desanya belum tergarap maksimal sebagai sumber ekonomi potensial dimasa depan.

Melalui gerakan dan diskusi ringan, akhirnya mereka berhimpun dalam sebuah komunitas yang fokus untuk menggerakan masyarakat membentuk sebuah kelompok diberi nama Kelompok Usaha Bersama ( KUBE) Berkah Abadi Lumindai yang mereka dirikan sekitar Maret 2019 silam dengan 10 anggota, dan kini telah mampu memproduksi gula semut dengan brand Gula Semut Aren Lumindai.

Menurut Roy maupun Isran, upaya mereka lahir karena gagasan dan pikiran bagaimana potensi alam hayati mampu membangkitkan ekonomi pedesaan mereka ditengah hantaman dan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi covid-19 ini.

Langkah anak muda kreatif ini mendapat dukungan Ketua KAN Lumindai Marali Dt.Sutan Marajo Lelo. Kepada beritaminang.com dia berkomentar, sudah saatnya anak muda yang bicara dan jadi penggerak pembangunan, baik fisik maupun ekonomi.

"Patut saya apresiasi, mereka positif dan sudah saatnya menjadi penggerak pembangunan dan ekonomi di Desa Lumindai ini. Mari kita dukung dan doakan semoga cita-cita mereka memberi kontribusi positif bagi masyarakat Lumindai." Ungkapnya.

Daripik, penyadap nira berpengalaman lebih 40 tahun mengatakan, selama ini dia hanya menyadap nira semata, tidak terpikirkan setelah itu bisa bisa dijadikan varian apa saja selain untuk minuman sehat dan pembuat gula aren cetak. Tetapi karena ikut bergabung dengan KUBE Berkah Abadi ini, dia jadi bersemangat menjadikan nira sebagai gula semut aren.

Begitu halnya dengan Salfiat, menyadap generasi muda ini juga bergabung dengan KUBE Berkah Abadi, sehingga potensi sumber dayanya juga dimanfaatkan untuk kelompok yang kini mulai tumbuh dan semakin dikenal dan diminati pasar ini.

Sebelum KUBE Berkah Abadi

Sebelum ada KUBE, sekelompok anak muda ini hanya beraktifitas sebagai petani seperti halnya mayoritas masyarakat Lumindai lainnya. Berkat rutinitas dengan bertani dengan pola tanam seadanya secara turun temurun dari nenek moyang mereka, kini membuat mata mereka mulai berpikiran maju untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada.

Lumindai dulunya terkenal sebagai produsen tembakau terbaik di Sumatera Barat, selain tembakau juga penghasil kopi dan kakao terbaik. Gula semut produksi mereka yangv rata-rata 50 kg per minggu sudah dipasarkan keberbagai daerah dan mendapat respon pasar, bahkan banyak pesanan konsumen via online yang dikirim melalui jasa pengiriman barang resmi dengan harga ditempat Rp 20 ribu pembungkus @1/4 kg.

"Namun kini, semua itu hanya tinggal cerita. Insya Allah kami secara bersama-sama ingin mambangkik batang tarandam dan ingin menggerakan semua sektor ekonomi yang kami mulai dari gula semut aren" ungkap Isran.

Mereka berharap kepada Pemerintah Kota Sawahlunto untuk membantu pembangunan jalan-jalan ke sentra produksi pertanian yang ada, sehingga bisa dilalui kendaraan roda empat. (iyos)

Loading...

Komentar

loading...

Berita Terbaru