Kisah Dua Sejoli Penjual Sate Gerobak, Sekolahkan Anak Sampai ke Perguruan Tinggi

SELINGAN-1565 hit

Penulis: RelKom/Ki/Lex | Editor: Marjeni Rokcalva

PADANG PANJANG - Di Pagi menjelang Siang hari sekitar pukul 09 : 30 WIB tampak dari kejauhan sepasang suami - istri (dua sejoli) dengan penuh semangat tengah mendorong gerobak sate berwarna biru kekuningan menyusuri jalan dan tanjakan di Kota Padang Panjang, Sumbar. Gerobak yang didalamnya telah berisi daging yang telah ditusuk, arang, kuah sate, ketupat serta perlengkapan lainnya, pertanda pasangan ini bersemangat mengais rezeki pada pagi menjelang siang itu, Sabtu (20/06/2020).

Diketahui, dua sejoli tersebut adalah Herman (55) dan Nur Asmi (55) warga RT 13, Kampung teleng, Kecamatan Padang Panjang Barat yang sudah menjalani pekerjaan sebagai penjual sate gerobak selama kurun waktu 25 tahun.

Herman (55) atau yang kerap disapa dengan sebutan Da Man oleh para pelanggannya tersebut mengatakan dirinya dengan sang istri telah menjalani pekerjaan sebagai penjual sate gerobak semenjak tahun 1995.

"Pada tahun 1995 saya berjualan awalnya cuma di sekolah dekat rumah saja seperti SD dan di SMP N 4 Padang Panjang, Namun untuk berkeliling cuma ke tempat yang dekat - dekat saja, "ucapnya.

Meskipun telah melakukan perjalan yang cukup jauh dari rumah di Kampung Teleng ke tempat dimana mereka akan memarkirkan gerobak dagangannya yang kurang lebih yang menempuh jarak 3 KM, dua sejoli tersebut tak menampakkan raut wajah yang lesu, melainkan kebalikannya yaitu wajah penuh harapan agar dagangannya laku pagi ini.

"Kalau pagi hari biasanya saya berjualan di Depan Kantor Dinas Sosial Kota Padang Panjang kalau siangnya di simpang rel kereta Kebun Sikolos dan sorenya di kantor Lurah Kampung Manggis, "ujarnya.

Dimasa pandemi wabah Covid-19 ini, beliau mengaku mengalami penurunan jual beli. Namun demikian beliau tetap bersyukur dengan berapapun nikmat rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

"Memang saat ini dagangan saya agak mengalami macet dan bulan puasa kemarin saya juga tidak berjualan dan baru kembali berjualan pada hari kedua lebaran kemarin. Namun saya tetap bersyukur dengan nikmat yang masih diberikan tuhan tersebut, "katanya.

Diumur yang tidak lagi terbilang muda tentu bukan pekerjaan yang mudah bagi dua sejoli tersebut mendorong gerobak sate yang berukuran sedang mulai dari pukul 08 : 00 WIB - 18 : 00 WIB tersebut, Namun semuanya dilakukan demi tetap menghidupi keluarga kecil dan enam orang anaknya.

"Alhamdulillah tiga dari enam orang anak saya sudah berkeluarga dan satu diantaranya juga telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dan sekarang bekerja sebagai honorer di Tanah Datar, "ungkapnya.

Beliau berharap di umur yang sudah tidak muda lagi ini bisa memiliki tempat dagangan (toko sendiri) untuk menjual satenya sehingga, tidak lagi perlu repot - repot untuk mendorong gerobak dagangannya menuju tempat - tempat tujuan yang biasa ia kunjungi. (RelKom/Ki/Lex)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru