Perjuangkan Adi Negoro Jadi Pahlawan, Azis Syamsudin: Kami Butuh Dukungan Suara Ormas

HISTORIA-471 hit

SAWAHLUNTO - Perjuangan mengantarkan Adi Negoro mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional belum berhenti. Jumat (28/2/2020) kemarin, di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, Sumatera Barat, giliran Wali Kota Sawahlunto Deri Asta, dengan lantang menyuarakan agar Anggota DPR RI turut membantu keinginan warga Sawahlunto dan Sumatera Barat tersebut.

Pernyataan bernada harapan itu disampaikan Deri Asta dihadapan Wakil Ketua DPR RI Bidang Korpolkam Dr.H.M Aziz Syamsudin, dan Angota DPR RI Komisi VIII Jhon Kenedy Aziz, saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Sawahlunto, sekaligus menghadiri pengukuhan DPD Karang Taruna Kota Sawahlunto, Jumat (28/2).

Merespon Deri Asta, Aziz Syamsudin sangat setuju keinginan masyarakat, bukan hanya warga Kota Sawahlunto sebagai kampung leluhur Adi Negoro, tapi juga merupakan perjuangan masyarakat Sumatera Barat, dan Indonesia secara keseluruhan. Untuk itu, katanya, agar pihaknya mampu menyuarakan di parlemen di perlukan dukungan banyak pihak.

"Kami sangat setuju, dan akan membantu perjuangan tokoh pers nasional Adi Negoro diakui sebagai Pahlawan Nasional, karena jasa dan perjuangannya dimasa perjuangan kemerdekaan. Namun, untuk menyuarakannya tidak cukup oleh anggota parlemen semata. Harus ada kelompok masyarakat dan berbagai organisasi yang ikut bersama mendorong hal itu." tegas Azis Syamsudin.

Saat di wawancara dorstop, Aziz Syamsudin mengatakan, suara-suara untuk memperjuangkan Adi Negoro sebagai pahlawan nasioanal bisa melalui organisasi kewartawanan seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan organisasi lainnya misal KNPI, Karang Taruna, dan organisasi Iain sebagai kekuatan pendukung.

"Insya Allah, sebagai wakil Ketua DPR RI aspirasi yang sudah muncul sejak lama ini akan saya perjuangkan dan sampaikan ke Kementerian Sosial dan Komisi VIII yang membidangi masalah agama dan sosial. Kebetulan Anggotanya ada disini Pak Jhon Kenedy Aziz." tutur Aziz, lugas.

Terpisah, Jhon Kenedy Aziz mengatakan, aspirasi yang berkembang dimasyarakat Sawahlunto dan Sumatera Barat itu, jadi catatan khususnya untuk memperjuangkan Adi Negoro sebagai "Pahlawan Nasional". Dia akan menyuarakan hal itu di Parlemen Indonesia.

"Kami dukung semua itu, sebagai mitra Komisi VIII DPR RI, saya dan teman-teman di parlemen nantinya akan membicarakan dan membahasnya dengan Kementerian Sosial." ungkap Jhon Kenedy Aziz.

Ketua PWI Cabang Sumatera Barat H.Heranof Firdaus, saat dimintai komentarnya disela pengukuhan PWI Perwakilan Sijunjung, di Balairung Lansek Manih, Jumat(28/2), menyatakan apresiasinya terhadap Pemko dan masyarakat Kota Sawahlunto yang kembali menyuarakan perjuangan Adi Negoro sebagai Pahlawan Nasional.

"Kami selaku insan pers sudah lama memperjuangkan itu, namun jika ada dukungan anggota parlemen tentu patut di apresiasi, sehingga perjuangan terhadap tokoh pers nasional ini kembali bergaung. Kepada Walikota dan masyarakat Sawahlunto mari kita bersama-sama berjuang kearah itu." kata Heranof.

Sekilas Adi Negoro

Adi Negoro, di kutip dari berbagai sumber, bernama lengkap Djamaluddin Maradjo Sutan. Dia lahir di Nagari Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904, dan meninggal di Jakarta 8 Januari 1967. Dia adalah seorang sastrawan dan wartawan kawakan lulusan pendidikan STOVIA 1918-1925. Punya pengalaman tentang jurnalistik, geografi, kartiografi, dan geopolitik di Belanda dan Jerman pada tahuin 1926-1930.

Adi Negoro, beristerikan Alidas asal Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dia merupakan saudara satu bapak lain ibu dengan tokoh pahlawan nasional Mr.Muhammad Yamin. Ayahnya bernama Usman gelar Bagindo Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan ibu Muhammad Yamin bernama Rohimah.

Kenapa nama Djamaluddin berganti Adinegoro ? menurut sejarah, dia terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA tidak dibenarkan menulis dan jadi sastrawan. Padahal, dia punya bakat menulis yang cukup tinggi. Sehingga dia harus menyamarkan namanya dari Djamaluddin menjadi Adinegoro, sebagai identitas barunya.

Dengan nama Adi Negoro yang berbau Jawa,dia leluasa menyalurkan hobinya menulis dan mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin Dt.Maradjo Sutan. Oleh karena itulah, nama Adinegoro justru lebih dikenal dari pada nama aslinya Djamaluddin.

Adi Negoro, memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia. Dia sering membuat artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Saat menuntut ilmu di luar negeri tahun 1926--1930, dia merangkap sebagai wartawan lepas di koran Pewarta Deli Medan, dan koran BIntang Timur setrta Panji Pustaka di Batavia.

Dengan pengalaman dan ilmu yang diperoleh dari luar negeri, dan sebagai wartawan, Adi Negoro kembali ke tanah air, dan diberi jabatan memimpin majalah Panji Pustaka ditahun 1931 selama 6 bulan.

Kemudianditawari untuk memimpin surat kabar Pewarta Deli, Medan, tahun 1932-1942. Lantas ikut memimpin Sumatra Shimbun sekitar 2 tahun. Kharismanya terus melejit, bersama dengan Prof.Dr.Sutomo dia menjadi pememimpin majalah Mimbar Indonesia tahun 1948-1950.

Kemudian dia diberi tanggungjawan memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia pada tahun 1951. Tokoh Adi Negoro mengakhiri hidupnya dengan bekerja di Kantor Berita Nasional yang kini bernama LKBN Antara.

Alat perjuangannya dalam kemerdekaan Indonesia melalui karya-karya jusnalistik.

Dia tercatat sebagai pendiri Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Unpad.

Adi Negoro, juga pernah menjadi Dewan Rakyat bentukan Jepang tahun 1942-1945 yang disebut Tjuo Sangi In dan Anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, serta Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung di jakarta. (Yos)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru