Kembali ke Surau, Motif Batik Indah nan Elok Ciptaan Rang Minang Padang Panjang

SELINGAN-347 hit

KEMBALI ke Surau, ini salah satu motif batik yang dihasilkan perajin batik muda di Kota Padang Panjang. Motif batik yang diciptakan UMKM Batik Rang Minang tersebut, merupakan cerminan dari suasana religius di kota tempat motif batik ini dihasilkan.

UMKM Batik Rang Minang yang berlokasi di Jl. H. Kamarullah, Kelurahan Bukit Surungan, Kecamatan Padang Panjang Barat ini, ruangannya hanya berukuran lebih kurang 3 x 10 meter persegi. Ruang itu kemudian dibagi menjadi dua bagian, masing-masing 3 x 5 meter persegi dengan disain kotak. Namun, di ruangan kecil nan sederhana inilah mahakarya indah nan elok tersebut sedang diciptakan.

Hendro (27), Dinda (25), Nadia (24), dan Mike (35) duduk di ruangan bagian depan dengan melingkari wajan kecil yang di atasnya terdapat malam (lilin) yang sedang dipanaskan. Berkali-kali mereka mencelupkan canting ke dalam wajan. Menundukkan badan. Kemudian melukis kain dengan sepenuh hati.

Canting berlarian ke sana-sini mengikuti pola motif Masjid Asasi yang dikelilingi bunga dan juga kupu-kupu yang sudah dilukis menggunakan pensil sebelumnya. Masjid Asasi melambangkan surau. Kupu-kupu melambangkan kaum laki-laki. Bunga melambangkan kaum perempuan.

Motif ini mewakili harapan Nadia, sang pelukis pola. Ia berharap para kaum muda, baik laki-laki maupun perempuan Minangkabau untuk kembali belajar agama, adat dan kesenian di surau seperti masa dahulu.

Setumpuk keinginan dan harapan yang ada dalam pola tersebut, ditintakan di atas kain pesanan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) sebanyak 30 helai dengan panjang masing-masing adalah 115 - 220 cm.

Di ruangan sebelahnya, Indah (26) dengan telaten menggosok-gosokkan spons busa yang telah diberi pewarna khusus batik ke setiap sisi dan sudut yang masih berwarna putih pada bidang kain yang telah selesai dicanting. Warna biru kemudian dipilih menjadi warna dasar batik yang akan dibuat menjadi baju tersebut.

Sesuai dengan namanya, Batik Rang Minang mengambil motif yang berasal dari lingkungan Minangkabau. Seperti motif Surau dan Silek yang baru-baru ini diproduksi. Ada juga Pucuak Rabuang, Kaluak Paku, Rangkiang, Rumah Gadang dan juga Masjid Asasi, salah satu masjid tertua di Kota Padang Panjang. UMKM ini masih mempertahankan batik tulis untuk menjaga keunikan dan kekhasan karena dilukis satu persatu.

Ketekunan dan semangat yang dimiliki Mike dan teman-temannya, berasal dari support yang diberikan Pemerintah Kota Padang Panjang yang telah banyak memfasilitasi mereka. Mulai dari awal pelatihan, hingga penyediaan tempat produksi dan bahan-bahan pembatikan.

Dengan pola dan motif yang diambil dari lingkungan sekitar Minangkabau, Mike berharap masyarakat terkhususnya pemuda pemudi Minangkabau untuk senang dan bangga menggunakan batik hasil kerajinan lokal yang tidak kalah indah dan bagusnya dengan batik buatan luar daerah.

(fuji/aini/niko)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru