Menyelamatkan Harimau Terakhir Indonesia

PERISTIWA-590 hit

SUMATERA BARAT-Sudah hari keempat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) belum juga berhasil dievakuasi, kekhawatiran harimau sumatera bergerak ke arah permukiman mulai muncul.

Sejak beredarnya video harimau sumatera mengikuti kendaraan di perkebunan sawit, Balai Konservasi Sumbar Daya Alam (BKSDA) Sumbar memutuskan memasang dua boxtrap (kandang jebak) dan tiga kamera pengintai untuk memantau harimau.

Evakuasi dilakukan untuk menghindari konflik satwa dengan manusia, opsi penggiringan dan pengusiran harimau menuju Kawasan hutan hampir mustahil dilakukan. Jarak hutan terdekat 9 km dan melewati beberapa permukiman penduduk, risiko konflik dengan manusia jadi lebih tinggi, ucap Ade Putra, BKSDA Sumbar.

Baca Juga


Warga juga melaporkan lima ternak hilang dan terlihat tiga ekor individu harimau sumatera. Namun, dari hasil kamera pengintai yang dipasang empat hari ini, hanya terlihat satu individu harimau sumatera yang diidentifikasi dari belangnya, sambung Ade.

Perilaku harimau sumatera mengikuti kendaraan bisa disebut tidak normal, dugaan awal harimau ini terpisah dari rombongan.

Evakuasi harimau semakin seru, tim BKSDA Sumbar yang bertugas tidak dibekali senjata api, seluruh angota BKSDA Sumbar baru selesai mengikuti ujian psikotes untuk kepemilikan senjata api dan masih menunggu hasil ujian keluar. Kalau harimau sumatera mengamuk atau ada satwa liar selama evakuasi, tim akan menggunakan senjata dari kayu atau benda-benda yang ada di alam untuk bertahan dan mengurangi risiko, lanjut Ade.

Akhirnya, pada hari kelima Senin pagi (19/7/2021) harimau sumatera masuk kandang jebak. Harimau sumatera ini masih remaja terlihat dari taringnya dan berkelamin betina. Harimau dibawa untuk menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan ke Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi.

Tidak mudah mengambil kesimpulan kenapa harimau sumatera ini berada di area perkebunan sawit.

Bagi perusahaan sawit, terjadinya konflik dengan satwa dilindungi dan terancam punah seperti harimau sumatera di area perkebunan sawit bisa mempertaruhkan sertifikat International Sustainable Palm Oil (ISPO) yang mereka miliki.

Harimau sumatera adalah subspesies terakhir harimau Indonesia. Dua saudara harimau sumatera; harimau jawa (panthera tigris sondaica) dan harimau bali (panthera tigris balica) sudah duluan punah.

Data Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) tahun 2109, populasi Harimau Sumatera tersisa sekitar 600 ekor. Menurut International Union for Conservation Nature (IUCN), harimau sumatera berada dikategori critically endangered (selangkah menuju punah).

Proses Lepasliar

Harimau tidak boleh terlalu lama di TMSBK Bukittinggi, ini bisa menghilangkan sifat liar. Hasil pemeriksaan drh. Syafrizal di TMSBK Bukittinggi, harimau sumatera dalam kondisi sehat serta tidak ditemukan luka jerat ataupun luka lainnya.

Bertepatan dengan Global Tiger Day 2021 atau Hari Harimau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 Juli, harimau sumatera ini dilepasliarkan kembali untuk menjaga populasi harimau sumatera di habitatnya oleh BKSDA Sumbar dan Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman Barat.

Perjuangan menjaga harimau terakhir Indonesia belum berhenti, bersama beberapa orang teman jurnalis di Sumatera Barat saya mendirikan perkumpulan Jejak Harimau. Jangan sampai harimau sumatera punah dan hanya menjadi simbol semata seperti di Reog Jawa dan kepala Barong Bali menjadi tujuan didirikannya Jejak Harimau. (Beritaminang/Adi Prima).

Loading...

Komentar

Berita Terbaru