Pesan MUI Terkait Memanasnya Diskusi Dan Pro Kontra Debat Salafi - Aswaja

PEMERINTAHAN-507 hit

PAYAKUMBUH - Persatuan umat yang merupakan agenda besar MUI dan ormas-ormas Islam dalam kurun waktu akhir-akhir ini tengah diguncang. Hal ini dipicu makin panasnya diskusi dan pro-kontra terhadap beberapa materi kajian Islam di media sosial. Perdebatan yang kian panas tersebut antara pihak yang menyebut kalangan mereka sebagai Salafi dengan kalangan yang mengklaim sebagai Aswaja.

Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Ustadz H Hannan Putra Lc MA mengkhawatirkan jika perdebatan yang terjadi akan berpotensi merusak ukhuwah dan persatuan ummat. "Kami mengamati di medsos, diskusinya sudah tidak sehat. Bukan lagi didasarkan ilmu dan akhlaqul karimah, tapi saling sindir dan menjatuhkan," papar beliau kepada tim pers selepas memberi ceramah di Masjid Babus Shiddiq Bonai, Rabu (3/11/2021).

Sebagaimana diketahui, sebelumnya sempat akan diselenggarakan diskusi terbuka di Pesantren Al-Manar Batu Hampar. Acara yang dijadwalkan Selasa (2/11/2021) tersebut dibatalkan setelah keluar larangan dan himbauan dari Kapolresta Payakumbuh. Mengingat acara tersebut bisa berpotensi terjadinya konflik bahkan kekerasan fisik.

Baca Juga


"MUI sudah berupaya mempertemukan ustadz di kedua pihak. MUI bersedia sebagai mediator. Dengan catatan tidak membawa massa dan tim media. Cukup beberapa orang saja di forum yang tertutup dan terbatas. Namun tampaknya kedua pihak sangat sibuk dengan agenda masing-masing," papar beliau.

"Namun jika memfasilitasi debat terbuka untuk tontonan publik, jelas MUI tidak akan bersedia," tambah beliau.

Menurut Sang Ustadz, ketidakharmonisan antar pengajian bisa saja ditunggangi dan dipolitisasi sekelompok pihak untuk mengadu-domba umat Islam. "Ada upaya untuk memecah-belah persatuan kita. Supaya kita disibukkan dan energi kita dihabiskan untuk bertikai satu sama lain. Padahal banyak tugas keummatan yang membutuhkan perhatian kita," papar beliau.

Kepada masyarakat awam, beliau memesankan untuk tidak terlibat dalam perdebatan tersebut. "Yang tidak mengerti dan baru mengaji sebaiknya jangan ikut-ikut berkomentar. Apalagi belum faham adab majlis, nanti bisa memperkeruh suasana. Biar ustadz-ustadz kita itu saja yang berdiskusi. Tentunya dengan mengedepankan ukhuwah Islamiyah dan akhlaqul karimah," pesannya.

"Tetap jaga ukhuwah dan saling menghormati. Berbeda pendapat dalam hal furu' itu sah-sah saja. Tapi yang namanya mencaci dan mencela orang lain tidak bisa dibenarkan," pungkasnya.(Do)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru