Konservasi Penyu Ampiang Parak Pessel, Sepi Pengunjung Sejak Pandemi Covid-19

PARIWISATA-875 hit

Ampiang Parak - Kawasan Ekowisata Konservasi Penyu laskar Turtle Camp Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan sejak pandemic Covid-19 sepi kunjungan. Kawasan ekowisata konservasi penyu seluas 2,7 km ini menjadi habitat penyu, saat musim bertelur tiba, penyu dewasa membuat sarang di kawasan ekowisata ini.

Menurut keterangan Kino salah seorang pengurus Konservasi Penyu ini, Minggu, 5 September 2021, bahwa, pantai di sini dijadikan sebagai tempat bertelur oleh penyu, sebelum adanya konservasi penyu ini, masyarakat mencari telur penyu untuk kemudian dijual. Seperti yang kita ketahui, penyu pada saat sekarang sudah masuk ke dalam daftar hewan langka yang dilindungi keberadaannya. Sehingga pemuda peduli lingkungan terutama penyu, berinisiatif untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat konservasi penyu, agar masyarakat tidak mengambil telur penyu sembarangan.

"Berdirinya konservasi penyu ini merupakan inisiatif pemuda dan masyarakat, makanan penyu didapat dari uang masuk yang dibayarkan pengunjung, tempat penangkaran penyu sendiri awalnya dibangun dari sumbangan masyarakat, namun makin ke sini konservasi penyu ini mulai mendapat perhatian dari pemerintah setempat," tutur Candra. Ada beberapa bangunan yang dibuat dengan menggunakan dana dari pemerintah.

"Kawasan Konservasi Penyu ini juga dijadikan tempat wisata, dari 2,7 km lahan konservasi, yang bisa dikunjungi oleh wisatawan dan masyarakat setempat hanya sekitar 200 meter. Hal ini dilakukan dengan tujuan Ketika nanti ada penyu yang bertelur di Kawasan itu tidak terganggu oleh kedatangan manusia, dan agar sarang penyu tidak terinjak wisatawan," jelas Kino.

Meskipun demikian ada beberapa jenis penyu yang diletakkan di dalam kolam sehingga pengunjung dapat melihat secara langsung seperti apa penyu yang ditangkarkan di tempat konservasi penyu ini. Penyu yang sudah dewasa akan dilepas ke laut, sementara anakan penyu akan dibesarkan hingga usia yang pantas untuk dilepaskan. Sebab jika langsung dilepaskan saat masih kecil dikhawatirkan penyu tidak bisa beradaptasi dan bertahan hidup di laut lepas.

Hal ini dituturkan Candra, salah seorang masyarakat ampiang parak, selain itu beliau juga mengatakan bahwa, selain dapat melihat penyu, masyarakat atau wisatawan bisa menghabiskan waktu mereka untuk piknik, memancing, dan berfoto di spot-spot foto yang telah disediakan oleh pengurus tempat konservasi penyu.

Untuk bisa menikmati keelokan alam dan melihat penyu secara langsung pengunjung cukup membayar Rp 5000-Rp 10000/orang . Untuk anak usia di bawah 5 tahun tidak perlu membayar uang masuk. Tempat ini sangat cocok dikunjungi saat akhir pekan dan libur lebaran. Namun sejak pandemi Covid-19 sampai saat ini, terjadi penurunan jumlah pengunjung, hal ini disebabkan oleh adanya himbauan untuk tetap berada di rumah guna memutus penyebaran Covid-19. Tentu saja hal ini juga berdampak pada penurunan pendapatan masyarakat yang berjualan di sekitar ekowisata konservasi penyu tersebut.

"Waktu kunjungan biasanya dari pukul 08.30 WIB hingga 17.30 WIB, buka setiap hari, biasanya kunjungan paling ramai di hari Sabtu dan Minggu, namun sejak Covid-19 terjadi penurunan pengunjung yang sangat drastis. Adapun pada masa pandemi Covid-19 ini pengunjung diharuskan mematuhi protokol kesehatan, wajib memakai masker serta membawa handsanitaizer guna mencegah penularan Covid-19," pungkas Kino. (Mia/MR)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru