Kapten Amir Djamin, Pejuang Kemerdekaan Sawahlunto yang Dilupakan dan Dihilangkan?

HISTORIA-793 hit

SAWAHLUNTO - Masih dalam suasana menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-76, banyak warga mengenang para pejuang kemerdekaan masa silam yang bersusah payah memerdekakann bangsa ini dari penjajahan Belanda dan Jepang. Banyak darah yang tercecer, dan korban berjatuhan di ujung bedil, dan sangkur terhunus kolonial serta pengkhianat bangsa. Sekarang, kita bisa tertawa, bebas, dan menikmati hasil perjuangan mereka.

Tetapi ada yang terlupakan, seorang sosok pejuang kemerdekaan bernama Kapten Amir Djamin Dt. Radjo Nan Sati, pemimpin militer, dan pengibar bendera merah putih pada tanggal 16 Agustus sebelum Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Nagari Kubang, Sawahlunto. Namanya terbenam ke dalam Bumi karena tak tercatat sebagai pejuang. Jangankan itu, keluarga almarhum patriot bangsa ini juga tak pernah diundang pemerintah dalam setiap kegiatan hari-hari besar kenegaraan seperti HUT Kemerdekaan RI, dan Hari Pahlawan.

"Sangat tidak elok jika sosok pejuang kemerdekaan seperti Kapten Amir Djamin "Singa Sawahlunto" ini dilupakan dan tidak digali sejarah perjuangannyanya. Apalagi keluarganya juga tak undang, dan dilibatkan dalam setiap kegiatan menyambut hari-hari besar kenegaraan seperti HUT RI dan Hari Pahlawan. Marilah kita menghormati para pejuang kemerdekaan, karena dari merekalah kita busa hidup seperti sekarang," ungkap Letkol (Purn) Anwar Hareva, MantanInspektorat Jenderal Angkatan Darat (Itjenad) Markas Besar (Mabes) Tentara Negara Indonesia (TNI) ini.

Akhyar Amir, anak dari Kapten Amir Djamin kepada beritaminang.com dua hari lalu menceritakan, meski nasib ayahnya dibuat demikian, tetapi kesatuan TNI melalui Dandim 0310 SSD telah menyambangi makam, dan keluarganya sekedar menghormati perjuangan Kapten Amir Djamin sebagai "Singa Kubang" dari Sawahlunto yang sangat anti penjajahan. Beliau sangat lihai menyelinap ke sarang Belanda, dan Jepang untuk belajar bahasa kedua koloni itu disamping mengetahui kekuatan, dan kelemahan mereka sembari belajar memegang senjata sebagai alat perjuangan bersama anak buah, dan rekan seperjuangnya yang lain.

Sosok Kapten Amir Djamin

Akhyar Amir, putra ketiga Kapten Amir Djamin Dt. Radjo Nan Sati ini menceritakan, ayahnya lahir di Nagari Kubang, Sawahlunto, 14 Agustus 1921. Ayahnya H. M. Djamin Pono Batuah seorang saudagar ternak dan anemer di Sawahlunto, sedangkan Ibunya Siti Malia hanya ibu rumah tangga yang menyekolahkan Amir kecil ke Sekolah BelandaHollandsch Inlandsche School (HIS) di Sawahlunto. Kemudian tamat pada tahun 1935, lalu ia pun merantau ke Bogor di usia 14 tahun.

Tujuan Amir merantau ke Bogor adalah untuk berdagang seperti kebiasaan orang Minang, dan menemui kakak sepupunya Sya'ir atau biasa disapa Sya'ia, keponakan dari H.M. Djamin ayah Amir Djamin tokoh terpandang yang sudah duluan merantau ke Bogor.

H.M Djamin, membekali Amir dengan modal berdagang secukupnya dengan menitipkan bimbingan kepada keponakannya Sya'ir bagaimana menunjukan cara berdagang yang baik sesuai ajaran agama. Seperti pituah Minang "anak dipangku kemenakan (ponakan) dibimbing", modal dagang yang dibawa Amir juga diselipkan untuk penambah modal Sya'ir keponakannya yang lebih tua 10 tahun dari Amir kecil dalam mengelola toko kelontong di Pasar Anyar Bogor

Selama di Bogor, diusianya yang baru 14 tahun, Amir mampu beradaptasi dengan lingkungan pribumi Bogor, dan Belanda dengan terus mengasah kemampuannya berbahasa Belanda dan Bahasa Inggris yang diperoleh saat sekolah di HIS Sawahlunto.

Bahkan Amir remaja mulai berteman dengan beberapa orang Jepang yang ternyata adalah agen mata-mata Jepang yang menyusup ke Bogor tahun 1939 sebelum Perang Dunia II meletus. Dari agen Jepang inilah Amir belajar bahasa Jepang, hingga akhirnya dia mampu dengan fasih berbahasa Belanda, Inggris, dan Jepang. Bahkan Amir akhirnya dia dipakai sebagai penerjemah tiga bahasa saat menjadi perwira Gyugun di Padang.

Amir Djamin, sangat gemar membaca, terutama berita koran-koran pergerakan kaum nasionalis berbahasa Belanda. Disinilah Amir muda mulai mengikuti arah perkembangan pergerakan nasional yakni menuju Kemerdekaan Indonesia. Pemikiran para tokoh pergerakan seperti H. Agus Salim, Ir. Sukarno, Tan Malaka, Hatta, Syahrir dan tokoh pergerakan lainnya saat itu mulai menyedot perhatian agar Indonesia bisa lepas dari tangan penjajahan, sehingga membangkitkan jiwa juangnya untuk Indonesia Merdeka.

Seperti hal jiwa kesatria kakeknya H. Aqah yang anti penjajahan, seorang pemimpin spritual kharismatik, dan berilmu yang mampu membunuh 84 tentara Belanda dalam aksi pemberontakan di Kubang, sedangkan saat itu pemberontak yang terbunuh hanya 4 orang. Inilah yang dijadikan martir oleh Amir Djamin untuk melanjutkan perjuangan kekeknya ini yang hidup dari tahun 1838-1915 itu. H. Aqah, terlibat perang melawan Belanda atas perampasan tanah ulayat Nagari Kubang untuk pertambangan batubara Ombilin tahun 1908.

Kisah heroik H. Aqah, Kakek Amir Djamin, telah membuatnya menjadi nasionalis disaat umur menanjak dewasa 17 tahun. Di mulai tertarik dengan dunia perjuangan politik Kemerdekaan Indonesia sembari berangsur meninggalkan usaha dagangnya bersama sepupunya Sya'ir .

Suatu ketika Amir Djamin membaca berita koran Berbahasa Belanda yang mengumumkan perekrutan serdaruKoninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) sebagai taruna angkatan laut yang berbasis di Surabaya. Info ini mengundang minatnya, secara diam-diam Amir Djamin menyiapkan lamaran tanpa sepengetahuan sepupunya Sya'ir. Dia ingin masuk pendidikan militer ini diiringi dengan modal jago bela diri silat, dan ilmu putih kebatinan turunan kakeknya H. Aqah.

Tapi, keinginan Amir untuk masuk pendidikan KNIL berantakan karena ayahnya H. M Djamin setelah diberitahu diam-diam Sya'ir tidak merestui karena dia ingin anaknya menjadi saudagar yang berhasil, dan maju. Bukan bergabung dengan angkatan laut KNIL di Surabaya. Ayahnya kecewa, dan sempat memarahi Amir untuk membatalkan rencananya tersebut. Akhirnya Amir mengurungkan niatnya meski dia dinyatakan lulus untuk mengikuti pendidikan di angkatan laut KNIL ini.

Tak lepas dari rencana itu, Amir dapat info lagi tentang penerimaan siswa di Sekolah Kepolisian di Salabintana Sukabumi. Kali ini Amir nekat untuk mengajukan lamaran tanpa memberi tahu Sya'ir lagi. Sebenarnya yang diinginkannya adalah menjadi serdadu KNIL atau polisi Belanda, sebab dalam pemikirannya bagaimana melawan penjajahan jika tidak memahami dan pelajari ilmu kemiliteran, karena di era itu suasana Perang Dunia ke II makin panas.

Amir Djamin akhirnya diterima sebagai siswa Sekolah Kepolisian Belanda di Salabintana Sukabumi. Kali ini Sya'ir tak dapat berbuat banyak. Dia terpaksa membiarkan Amir mengejar impiannya dengan meninggalkan dua buah toko yang diserahkan pengelolaannya kepadanya. Pada tahun 1937, Amir mulai menjalani pendidikan kepolisian di sukabumi. Dia dikenal sebagai siswa berprestasi, dan mampu memainkan alat musik seksofon, dan marchingband. Tak lama dia menamatkan pendidikan tahun 1939 di usia 18 tahun, dan bertugas di Metro Lampung sebagai polisi Belanda dari tahun 1939-1942.

Saat bertugas di tahun 1940, dia ditugaskan menerima ribuan orang dari Jawa di Lampung sebagai transmigran oleh Belanda. Para transmigran itu didatangkan dengan kapal, dan bus-bus dengan kondisi memprihatinkan, kendaraan penuh sesak, dan dikawal dengan moncong senjata yang siap meledak. Kondisi, dan situasi seperti ini membangkitkan rasa nasionalismenya untuk memberontak tetapi hal itu sulit dilakukan karena Belanda saat itu sangat kuat, dan dipersenjatai lengkap.

Suatu ketika, di musim liburan pendek, Amir mulai jenuh di Metro, lalu dia pun berangkat ke Batavia dengan alasan rindu menonton sebuah film di bioskop yang disediakan Hindia Belanda. Ini hanya alasan semata tetapi yang sebenarnya adalah keinginannya untuk melihat bagaimana perkembangan kaum pergerakan di Batavia untuk memerdekakan Indonesia.

Tahun 1942, Jepang pun masuk ke Hindia Belanda (Indonesia). Di Sumatera, serdadu Jepang masuk melalui jalur Singapura kemudian Palembang. Tersiar kabar bahwa serdadu Jepang sudah masuk di Palembang. Maka di Lampung, dan sekitarnya termasuk di Metro pegawai-pegawai pemerintahan Belanda lari menyelamatkan diri.

Jawatan kepolisian Metro pun demikian. Para pimpinan Amir di kepolisian berkebangsaan Belanda meninggalkan tugas begitu saja tanpa ada komunikasi. Semua instansi lumpuh total ditinggal para pimpinannya. Ternyata sebuah kapal perang sekutu sudah menunggu di lepas pantai perairan Lampung untuk menyelamatkan mereka ke Australia.

Saat itu Amir Djamin merenung. Apakah kolonialisme Belanda itu akan berakhir sekarang?. Jika itu benar, maka apa yang dia perkirakan selama ini akan terjadi. Bahwa akan datang masanya dimana Jepang akan menguasai bangsa kita bahkan dunia. Saat itulah ia teringat dengan kampung halamannya Sawahlunto, terutama kedua orang tua, dan sanak saudaranya di Nagari Kubang yang ditinggalkannya selama ini, selain bagaimana nasib tambang Ombilin pasca kalahnya Belanda oleh Jepang.

Sebab, kata Amir Djamin menceritakan kepada anak-anaknya, ketika Jepang masuk banyak asset peninggalan Belanda yang akan dikuasai Jepang. Diceritakan, sebelum ke Sawahlunto Jepang masuk terlebih dahulu ke Palembang untuk menguasai objek vital tambang minyak di Plaju, dan tambang timah di Bangka. Maka kemungkinan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto adalah target berikutnya oleh Jepang.

Karena situasi terus berkecamuk dalam pikirannya, Amir akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Sawahlunto dengan cara naik sepeda bersama rekannya Hasan dari Solok masing-masing satu sepeda patroli yang ditinggalkan Belanda. Saat melakukan perjalanan jauh disebabkan sulitnya kendaraan ke Padang mereka hanya dibekali sepucuk senjata, dan untuk makan di jalan mereka memanfaatkan benda apa saja yang bisa dimakan mereka makan sehingga perjalanan bisa ditempuh selama 17 hari dari Metro Lampung ke Sawahlunto dengan perjuangan berat, dan melelahkan melewati hutan lebat penuh binatang buas, dan sungai-sungai besar, dan kecil. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1942.

Begitu juga nasib teman-temannya alumni Sekolah Kepolisian Sukabumi baik satu angkatan maupun bukan yang bertugas di Batavia dan Jawa harus pulang ke kampung masing-masing. Tak lama, terdengar sebuah nama R.S. Soekanto adalah seniornya alumni Sekolah Kepolisian Belanda di Sukabumi yang berasal dari Bogor yang memiliki pengaruh saat masa pendidikannya di sekolah kepolisian itu. Orang tua R.S Soekanto tinggal di Lawang Gintung Bogor adalah orang tua angkat Amir selama di Bogor.

Inilah awal perjalanan hidup Kapten Amir Djamin Dt. Rajo Nan Sati. Perjalanan hidup berikutnya sebagai seorang militer dan pejuang sungguh penuh misteri. Pejuang yang sarat pengalaman ditiga zaman berbeda. Sebagai perwira polisi belanda (tamatan sekolah kepolisian Belanda di Sukabumi tahun 1939).

Singkat cerita, usai menjadi polisi Belanda dan sampai kembali di kampung halaman di Sawahlunto, Amir Djamin lalu masuk pendidikan Gyugun militer Jepang dan hingga menjadi perwira militer berpangkat kapten setelah menamatkan pendidikan Gyugun di Padang dengan pangkat Letnan. Dan lalu berkiprah dimasa kemerdekaan mendirikan Badan Kamanan Rakyat (BKR) di Sawahlunto dengan anggota sekitar 200 orang.

Sebagai penguasa militer di Sawahlunto masa pendudukan Jepang, Amir Djamin dikenal tegas dan beribawah dan sangat nasionalis dengan berupaya menyelamatkan tambang Ombilin dan Kota Sawahlunto dari rencana pergolakan aksi bakar habis seluruh benda dan bangunan peninggalan Belanda di Sawahlunto. Rencana ini ditantang Amir Djamin, Koita berperang dengan Belanda dan penjajah tidak harus melakukan pembakaran terhadap gedung dan aset pertambangan. Karena dia pimpinan militer kharismatik, jago silat, dan memiliki ilmu lainnya perintahnya berhasil mujarab dailaksanakan seluruh anak buahnya untuk tidak membumihanguskan Sawahlunto.

Entah apa yang terjadi, ditahun 1950 nama Amir Djamin hilang dari buku putih dinas kemiliteran. Maklum, dimasa itu TNI mengalami kontradiksi besar. Sebagai seorang perwira tiga zaman yang sudah berkecimpung dikemiliteran dengan segudang pengalaman dan taktik perang serta karir yang cemerlang dizamannya, perbuatan menghilangkan namanya dari lembaran sejarah dijawab dengan lapang hati dan jiwa besar. "Pejuang itu tidak mengharap pamrih, tulus dan ikhlas demi bangsa" ungkap Akhyar menirukan pesan ayahnya semasa hidup.

Pasca kemerdekaan, namanya muncul kembali. Pada tahun 1958 dia menjadi target penangkapan oleh Divisi Diponegoro dalam pergolakan dan penumpasan PRRI oleh TNI. Rumah orang tuanya yang ada di Kubang dibumihanguskan pasukan Divisi Diponegoro sekitar tahun 1960, kemudian karena di infiltrasi sebagai pemberontak padahal PRRI hanya memperjuangkan rasa keadilan, bukan memisahkan diri dari NKRI, Kapten Amir Jamin Dt. Rajo Nan Sati ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Sawahlunto.

Namun, satu setengah tahun di penjara Amir Djamin memperoleh amnesti dari Sukarno dan bebas tahun1962. Sejak itu namanya kembali dihilangkan dari catatan perjuanganya. Negara tak pernah mengakui perjuangannya sejak awal kemerdekaan sebagai seorang tentara pejuang dan pendiri TNI sampai akhir hayatnya.

Pada tahun 1985, setelah 35 tahun namanya hilang dari kemeliteran, tiba-tiba Negara telah mengakuinya sebagi seorang purnawirawan TNI AD berpangkat kapten dengan nomor NRP : 023 dari divisi IX Banteng. Beliau memilki sahabat seperjuangannya satu angkatan sesama perwira coi Gyugun Jepang berpangkat "Letnan Kolonel" (perwira menengah) pada masa awal kemerdekaan, yaitu saat Divisi Banteng terbentuk 1 Januari 1946 seperti Dahlan Djambek, Ismail lengah, Dahlan Ibrahim, dan Syarif Usaman.

Sejak 1985 itulah Amir Djamin memperoleh pensiun sebagai Kapten Purnawirawan hingga beliau meninggal bulan Januari 1993. Tetapi hingga kini namanya tetap hilang penuh misteri dari catatan lembaran negara sebagai pejuang kemerdekaan berpangkat Kapten yang menjadi komandan penguasa militer perjuangan kemerdekaan di wilayah Sawahlunto Sijunjung periode 1945-1950. Merdeka !! Semoga tak ada yang melupakan pejuang kemerdekaan.(Indra Yosef)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru