Merayakan Kebinekaan di Kepulauan Mentawai

HISTORIA-267 hit

MENTAWAI - Jika berkunjung ke Kepulauan Mentawai pada bulan Agustus, mampirlah ke Desa Sipora Jaya, Pulau Sipora, untuk melihat masyarakat merayakan kebinekaan dan kemerdekaan Indonesia.

Setiap hari kemerdekaan, masyarakat Mentawai yang multi etnis dan agama berkumpul. Mereka mengisi perayaan kemerdekaan Indonesia dengan bermacam kegiatan seru, ada lomba panjat pinang, pertunjukan kuda lumping, dan lomba perahu tradisional.

Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten terluar Republik Indonesia yang berada di Provinsi Sumatera Barat. Masyarakat Mentawai hidup dan tersebar di empat pulau besar; Pulau Pagai Utara, Pagai Selatan, Pulau Sipora, dan Pulau Siberut.

Baca Juga


Jalur laut dari Kota Padang menjadi pilihan terbaik jika berkunjung ke Kepulauan Mentawai. Di Bumi Sikerei Mentawai ini, masyarakat hidup rukun, dan berdampingan, rumah-rumah ibadah hanya berseberangan jalan, tindakan kriminal juga jarang terjadi.

'Orang Mentawai berperawakan baik dan menarik. Umumnya orang Mentawai baik hati; peramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hias-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato. Tuntutan adatnya sederhana, kejahatan dan tindakan kriminal jarang terjadi,' tipologi orang Mentawai menurut, Stefano Coronese.

'Bang Adi kalau tidak pulang ke tepi (Padang-red) besok, datang saja ke lapangan bola sebelum kantor Desa Sipora Jaya, ada acara panjat pinang, kuda lumping dan perang bantal, untuk merayakan HUT RI-Ke74' ucap Wajar Santoso, warga Desa Sipora Jaya yang juga bendahara desa.

'Awas kesurupan!' Jika menonton pertunjukan kuda lumping besok bg Adi,' sambung Wajar. Bagi saya, ini pertama kalinya saya menonton pertunjukan asli pulau jawa itu dari awal sampai akhir dan pembuktian apakah benar mitos jika kita kesurupan, maka setiap mendengar musik dan melihat pertunjukan kuda lumping kita akan kesurupan.

Kuda lumping menjadi pertunjukan yang paling dinanti. Pawang dan para pemain kuda lumping merupakan gabungan generasi ke pertama dan ke dua warga transmigrasi Pulau Jawa yang menetap di Kepulauan Mentawai dan masih mempertahankan kesenian ini.

Pawang membakar kemenyan memulai pertunjukan. Para pemain mulai menari mengikuti alunan musik. Beberapa penonton ada yang ikut berlari, menari dan ada yang kesurupan!

'Ini jelmaan Siluman Babi, ia akan mencari dan minum di kubangan air, penonton berbisik.' Satu penonton lagi kesurupan dan jadi kebal. Ia seolah-olah tidak merasakan pecutan cambuk pawang kuda lumping, ia tetap asik menari.

Pengalaman mengagumkan saya berikutnya, ketika menghadiri undangan pesta pernikahan di Muara Saibi, Pulau Siberut, tahun 2012. Warga Desa Muara Saibi yang mayoritas non-muslim mengetahui saya seorang muslim, ketika sampai di lokasi pesta, mereka langsung mengarahkan saya ke dapur yang 'Jumatan' alias tempat makan undangan yang beragama Islam.

Kepuluan Mentawai seperti Indonesia mini, kerukunan masyarakatnya bisa dicontoh. Perhatikan saja sejak dari keberangkatan di atas kapal cepat menuju Kepulauan Mentawai. Ragam etnis dan suku yang berada di dalam kapal cepat. Ada orang Minang, orang Nias, orang Batak, orang Jawa, saudara kita dari Timur, bahkan orang bule yang menikah dengan orang Indonesia juga tinggal di Mentawai. (AP)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru