Tradisi Manampuang, Cara Berbeda Pembagian Daging Kurban di Sitingkai Agam

SELINGAN-1215 hit

AGAM - Ratusan Masyarakat Jorong Sitingkai, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, berjejer di sepanjang jalan Jorong Sitingkai saat ba'da dzuhur. Semua lapisan masyarakat membaur menjadi satu. Tampak di hadapan mereka kantong kosong yang siap untuk diisi daging kurban. Sementara itu, sejumlah panitia kurban sibuk mengisi kantong tersebut satu per satu.

Hal ini merupakan cara tersendiri bagi masyarakat setempat dalam memaknai momen perayaan Idul Adha. Selain sebagai ibadah keagamaan, penyelenggaraan penyembelihan hewan kurban sekaligus menjadi ajang untuk memperat tali silaturahmi serta memupuk rasa kebersamaan dengan cara menjaga kearifan lokal.

Masyarakat menamai aktivitas tersebut dengan manampuang. Manampuang merupakan aktivitas pengambilan daging kurban yang sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat setempat.

Baca Juga


"Manampuang merupakan kearifian lokal kami di sini, tradisi ini sudah berlangsung sejak dahulunya," ujar salah seorang tokoh pemuda Sitingkai, Afriadil, sebagaimana dirilis amcnews.co.id, Selasa (20/7).

Diutarakan lebih lanjut, di Jorong Sitingkai, selama ini pembagian daging kurban tanpa menggunakan kupon. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat setempat terpancing untuk mendatangi lokasi pembagian daging kurban.

"Kalau pakai kupon, tentu tidak semua masyarakat yang datang, hanya perwakilan saja. Jadi kalau dengan cara menampuang seluruhnya akan datang, baik anak-anak maupun orang tua," jelasnya.

Afriadil menjelaskan, dikatakan manampuang karena sistem pembagian daging dilakukan dengan cara dibagikan oleh panitia dimana masyarakat menerimanya dengan cara menampungkan kantong masing-masing.

"Jadi di lokasi, masyarakat berdiri berjejer di dua sisi jalan, dimana masyarakat mempersiapkan kantong masing-masing, lalu panitia berjalan di tengah untuk memasukan daging tersebut ke kantong-kantong," tuturnya.

Menurut Afriadil, masyarakat tidak pernah protes dengan daging apapun yang didapat. Sampai saat ini, tidak pernah ada kericuhan saat pembagian daging kurban, sebab semua yang datang dapat jatah daging kurban sama banyak.

Dikatakan, tradisi tersebut dilakukan untuk memupuk rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Selain itu, juga untuk menyemarakkan perayaan Idul Adha dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.

"Ya terkadang masyarakat tidak sempat jalang manjalang (bertamu-red) ke rumah masing-masing, jadi di lokasi manampuang masyarakat saling bersilaturahmi," ulasnya. (Rel/Je)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru