Kembangkan Pariwisata, Warga Desa Rantih Sawahlunto Keluhkan Jaringan Internet Lemot

PARIWISATA-597 hit

SAWAHLUNTO - M.Edi Yusuf, Kepala Desa Rantih, Kecamatan Talawi, Sawahlunto berekpektasi ingin membangun jembatan penyeberangan sungai di perbatasan segitiga antara Desa Salak dengan Desa Rantih, dan Desa Rantih dengan Desa Sikalang, untuk mempermudah akses transportasi ke desa wisata penghasil beras tersebut.

Selain itu, Kepala Desa yang pernah menjabat pada periode 2009-2015 itu kini juga tengah mempersiapkan tiga Ranperdes untuk mendukung implementasi peraturan-peraturan yang ada agar efektif dilaksanakan ditingkat Desa Rantih. Hal itu terkait dengan peraturan tatakrama dan estetika sejalan dengan program Rantih sebagai Desa Wisata. Kemudian Ranperdes Lubuk Larangan, dan Ranperdes Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

"Kami ingin bangun jembatan gantung yang bisa dilewati kendaran roda empat di segitiga perbatasan Desa Rantih dengan Desa Salak dan Desa Sikalang untuk membuka akses transportasi kedesa wisata Rantih melalui penyeberangan Batang Ombilin. Selain itu sedang mempersiapkan lahirnya tiga Ranperdes tentang aturan tatakrama objek wisata, Ranperdes Lubuk Larangan, dan Ranperdes BUMDes.InsyaAllah langkah kearah itu sudah kami siapkan." Ungkap Edi Yusuf kepada beritaminang.com, di Rantih, Kamis (15/7).

Baca Juga


Didampingi Sekretaris Desa Ikrar Mustaqim, Edi Yusuf mengutarakan, Desa Rantih dengan penduduk sekitar 703 jiwa ini merupakan desa potensial di sektor pertanian dan pariwisata. Rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani, dan kalangan milenialnya sudah banyak yang mengikuti pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, kelak mereka-mereka inilah yang akan membangun desa agar tidak tertinggal dari daerah lain.

Desa Rantih, seperti diuraikan, memiliki lahan potensial persawahan sekitar 25 hektar dan ladang atau perkebunan dengan luas sekitar 35 hektar. Selain potensi ini bisa dikembangkan untuk penguatan ekonomi warga ditengah pandemi saat ini, juga bisa dikelola untuk menjadikan Desa Rantih sebagai Desa Wisata yang sesungguhnya jika Pokdarwis Meranti yang dulu bernama Lembaga Desa Wisata Rantih mampu memanfaatkan potensi ini dengan baik, apalagi desa ini berada dibelahan sungai atau Batang Ombilin.

Bicara objek wisata tambah Ikrar, tentu Desa dan seluruh perangkatnya mendukung semua itu, termasuk tokoh masyarakat dan kalangan pemuda. Rantih memiliki 2 objek air terjun yakni air terjun Bikan dan air terjun Tibarau yang akan mereka kembangkan bersama dan butuh dukungan serta binaan pemerintah daerah serta pihak lainnya seperti BUMN dan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif.

Jika semua diserahkan ke desa anggaran tidak cukup, tetapi dalam mendukung kegiatan sektor wisata selalu ada kebijakan untuk mealokasikan anggaran sekitar 0.75 persen setiap tahun yang sudah berjalan sejak 2016. Untuk diketahui saja, ABPDes Rantih sangat terbatas dengan anggaran Dana Desa sebesar Rp 900 juta dan ADD-nya sekitar Rp1,2 miliar.

"Alhamdulillah, Meski demikian, tingkat kunjungan wisatawan kedesa Rantih cukup menghibur. Jika sebelum pandemi COVID-19 rata-rata 300 orang perminggu, setelah pandemi menurun rata-rata 85 orang setiap pekannya dengan memungut tarif masuk ke objek wisata sebesar Rp 5000 per orang" tukuk Ikrar.

Pemerintah Desa Rantih saat ini mengeluhkan soal lemotnya jaringan internet. Mereka minta Pemerintah Kota Sawahlunto memperkuat kapasitas jaringan yang ada sehingga dapat membantu kelancaran komunikasi dan informasi baik bagi pemerintahan, masyarakat, dan wisatawan.(Iyos)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru