Tradisi Adat Babako di Minangkabau

351 hit
Paskibraka Kota Padang Panjang Dikukuhkan

Haisyah Qadri Febrian

Mahasiswi Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Minangkabau

Babako adalah suatu upacara adat pra perkawinan di Minangkabau yang diselenggarakan oleh kerabat pihak ayah. Babako atau berbako merupakan tradisi yang mencerminkan kehidupan bergotong royong pada masyarakat Minangkabau.

Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang menganut sistem matrelineal. Secara sederhana kata Matrelinial dapat kita artikan sebagai struktur masyarakat yang diatur menurut garis keturunan ibu. Prinsip Matrelineal berlaku umum dan alami. Hal ini berarti, secara alami anak lebih dekat dengan ibunya dibanding dengan ayah. Meskipun demikian ada beberapa upacara adat yang dapat menjalin kedekatan anak dengan keluarga si ayah.

Misalnya, ketika upacara pernikahan maka pihak keluarga dari sang ayah memiliki peran penting dalam upacara tersebut, yang mana pihak ayah tersebut dikenal dengan istilah Bako. Bako ialah seluruh keluarga dari pihak ayah mempelai baik dari mempelai perempuan maupun mempelai laki-laki yang keduanya memiliki Bako yang berbeda.

Tradisi itu terlihat ketika pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita (bako) memberikan barang antaran untuk calon pengantin wanita. Barang antaran tersebut terdiri dari seperangakat kebutuhan wanita yang disusun dalam baki-baki sesuai dengan jumlah barang yang akan diantar tadi (disebut babaki).

Selain itu, perlengkapan yang turut serta dibawa saat babako yaitu berupa sirih lengkap (sebagai kepala adat), nasi kuning singgang ayam (makanan adat), antaran barang keperluan calon mempelai wanita seperti seperangkat busana, perhiasan emas, lauk-pauk yang sudah dimasak ataupun masih mentah, kue-kue dan lain sebagainya. Acara babako ini juga menunjukkan kasih sayang bako calon mempelai wanita yang ikut memikul biaya sesuai kemampuan atau memberikan barang antaran tersebut.

Tujuan diselenggarakannya tradisi ini untuk memperkernalkan keluarga ayah kepada sang anak. Anak yang dijemput dibawa kerumah bakonya, agar anak bisa berkenalan dengan lingkungan keluarga ayah (bako). Kemudian sang anak diarak sabalik kampuang dan diantarkan kembali kerumah orang tuanya diiringi kerabat dengan membawa dulang lengkap dengan isinya dan berpakaian adat. Selain itu, tradisi ini mempunyai fungsi dan sangat berarti tentunya dalam perkembangan kepribadian dan psikologis si anak nantinya.

Jadi, acara babako ini harus terus dikembangkan dan dilaksanakan agar tidak hilang dan luntur oleh perkembangan zaman, karena sangat penting untuk anak sendiri. (***)

Komentar

Artikel Terbaru