Makna Gotong Royong Bagi Masyarakat Minang

780 hit
Paskibraka Kota Padang Panjang Dikukuhkan

Abdul Jamil Al Rasyid

Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand

Tentu kita pernah mendengar istilah gotong royong. Tidak hanya urusan kerja saja ada juga tapi juga ada kabinet yang dipakai dinamakan gotong royong. Kabinet Gotong Royong adalah kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz. Kabinet ini dilantik pada 10 Agustus 2001 dan masa baktinya berakhir pada 20 Oktober 2004. Begitu melekatnya gotong royong bagi masyarakat di Indonesia sampai dijadikan nama kabinet.

Gotong Royong adalah istilah bagi masyarakat Indonesia untuk bekerja bersama-sama demi mencapai suatu hasil yang diinginkan. Jadi, gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama dan bersifat suka rela dengan tujuan untuk memperlancar suatu pekerjaan agar menjadi mudah dan ringan. Gotong royong seperti yang dikatakan diatas adalah tidak diupah melainkan hanya dengan modal semangat kebersamaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gotong royong mempunyai arti bekerja bersama-sama (tolong-menolong, bantu-membantu).Kegiatan gotong royong sudah tak asing bagi masyarakat Indonesia dan juga masyarakat Minangkabau. Dalam hidup bermasyarakat, setiap orang tak jauh dari kegiatan tersebut. Setiap orang di Minangkabau pernah pergi gotong royong tersebut. Gotong royong bisa dibilang menjadi satu di antara ciri khas Bangsa Indonesia. Perilaku gotong royong yang dimiliki Bangsa Indonesia telah ada sejak dahulu kala. Kata salah seorang warga gotong royong adalah sebuah budaya yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

Hal tersebut yang membuat gotong royong dianggap sebagai kepribadian dan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Perilaku gotong royong perlu ditanamkan dalam setiap elemen atau lapisan masyarakat yang ada di Minangkabau. Adanya kesadaran setiap elemen masyarakat dalam menerapkan kegiatan gotong royong bisa membuat hubungan persaudaraan makin erat.

Gotong royong di Minangkabau juga menjadi sebuah budaya dan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun. Menurut hemat penulis gotong royong adalah budaya yang tidak pernah ditinggalkan dalam kehidupan bermasyarakat di Minangkabau umumnya. Gotong royong tidak pernah ditinggalkan masyarakat karena sudah menjadi darah daging bagi masyarakat Minangkabau untuk melaksanakan gotong royong. Gotong Royong di Minangkabau sudah menjadi identitas bagi masyarakat. Ada banyak nilai-nilai kebersamaan yang ditampilkan dalam gotong royong. Semangat kebersamaan inilah yang membuat gotong royong terasa lebih mudah misalnya saja gotong royong sebuah jalan, dengan semangat kebersamaan maka jalan tersebut yang awalnya terlihat sulit seakan lebih mudah dan cepat diselesaikan.

Semangat ini hendaknya yang dibawa kedalam kehidupan. Seperti yang sudah disinggung diatas gotong royong juga ada dijadikan sebagai nama kabinet. Begitu besar makna gotong royong bagi masyarakat karena sudah menjadi nama kabinet pada era Megawati ketika itu. Tentu ada alasan kenapa putri Soekarno ini memilih gotong royong untuk nama kabinetnya. Karena menurut hemat penulis kabinet kerja era Soekarno digunakan dan dilengkapi oleh kabinet gotong royong era Megawati.

Di Minangkabau gotong royong juga sudah dilaksanakan secara turun temurun yang sudah mengakar bagi masyarakat Minangkabau itu sendiri. Di Minangkabau gotong royong adalah cara untuk mencapai tujuan kebersamaan misalnya pembangunan Surau. Mesjid, lapangan dan lain-lain. Masyarakat Minangkabau biasanya selalu hadir dalam gotong royong karena kita tidak hadir kita akan dicap oleh masyarakat adalah orang yang tidak bisa/pandai bergaul dengan masyarakat.

Biasanya masyarakat yang tidak ikut gotong royong akan dikenakan sanksi yang beragam contohnya gotong royong kalau di kampung penulis akan dilakukan denda, pengucilan bagi masyarakat dan bisa juga kata orang tersebut tidak didengarkan masyarakat. Pengucilan bagi masyarakat ini misalnya orang tersebut baralek maka masyarakat tidak akan datang ke tempat dia baralek. Ada juga yang kedua yaitu kata yang tidak didengarkan oleh masyarakat yaitu ketika dia berbicara pendapat dia tidak akan diterima masyarakat dalam suatu rapat tertentu misalnya. Yang ketiga yaitu denda biasanya bagi yang melanggar dikenakan denda yang notabene adalah masyarakat yang tidak patuh biasanya satu sak semen, satu mobil pasir dan sebagainya. Untuk urusan gotong royong tidak dilakukan oleh elemen masyarakat tertentu para Ulama, Labai, Khatib, dan imam tidak diikut sertakan untuk gotong royong karena mereka adalah orang siak, alasannya tentu tidak elok melihat para ulama ikut serta terjun ke dalan masyarakat karena ulama adalah sebuah panutan baik dari segi akhlak, ilmu dan lain-lain. Hal ini terjadi karena ulama tidak bisa terjun ke masyarakat bukan itu dan alasannya adalah di tempat gotong royong para masyarakat sudah bercampur dan tidak jarang mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak enak.

Tetapi para ulama ini walaupun dia tidak bisa gotong royong dia akan tetap menggantikan gotong royong dengan mengasih sumbangan tertentu misalnya dengan uang, sumbangan setiap gotong royong selalu ada diminta di tepi jalan dengan menggunakan kardus, kantong dan lain sebagainya. Ada juga urang sumando tidak juga ikut gotong royong karena urang sumando adalah tamu kita di kampung tersebut. Alasannya adalah urang sumando adalah orang yang dihormati dan diberi gelar oleh kampung misalnya Sutan, Sidi, Bagindo dan lain-lain.

Selain elemen-elemen masyarakat diatas seluruh pemuda-pemudi yang ada di kampung diwajibkan gotong royong. Biasanya gotong royong ramai dihadiri para masyarakat. Contoh nya di Kampung penulis gotong royong dilaksanakan pada hari minggu dengan alasan pada hari tersebut adalah hari pasar bagi masyarakat. Begitu penting peran gotong royong untuk merajut kebersamaan antar sesama masyarakat, semangat itu sendiri harus kita alirkan dan kobarkan karena gotong royong adalah sebuah identitas masyarakat dan identitas budaya yang mempunyai nilai-nilai tersendiri bagi masyarakat yang menganutnya. (***)

Komentar

Artikel Terbaru