Konflik Pengelolaan Posko Gunung Marapi, Pendaki yang Kena Imbas

1144 hit
Paskibraka Kota Padang Panjang Dikukuhkan

Sutomo Paguci

Advokat dan penghobi aktivitas luar ruang

GUNUNG Marapi berketinggian 2.891 mdpl secara administratif berada di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, adalah gunung api dengan jumlah pendaki terbanyak dari seluruh gunung yang ada di Sumatera Barat.

Jalur paling ramai untuk mendaki gunung ini ada di Koto Baru, Tanah Datar, yang selama ini pengelola poskonya adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Koto Baru.

Sebulan belakangan, Posko Pokdarwis Koto Baru mengalami konflik internal. Pecahannya mendirikan posko yang sama di camping ground BKSDA dengan menamakan dirinya Pokdarwis Batu Palano.

Selain konflik internal, yang saat ini sudah sangat merugikan para pendaki, banyak masalah lain di jalur Koto Baru gunung Marapi ini.

Salah satu contohnya, shelter untuk berlindung para pendaki gunung Marapi jalur Koto Baru, diambil alih sepihak oleh warga untuk kepentingan pribadi, buat tempat jualan. Dan orang dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) posko Koto Baru Marapi, selaku pengelola jalur ini, membiarkan saja.

Setahu penulis, dari seluruh gunung di Sumbar, memang gunung Marapi-lah yang paling kacau balau pengelolaan oleh Pokdarwis-nya.

Puluhan juta bahkan ratusan juta uang tiket masuk dan parkir dipungut dari para pendaki tiap tahunnya. Tapi nyaris tanpa imbal-balik apapun pada pendaki, kecuali saat pendaki kecelakaan, berupa personil bantuan menjemput.

Lihat saja. Jalur tidak dibersihkan rutin. Jembatan bambu alakadarnya dan membahayakan pendaki dibiarkan begitu bertahun-tahun. Camping ground dan sumber air dibiarkan kotor oleh sampah.

Juga tidak ada dana dari duit pendaki digunakan untuk bikin shelter baru. Shelter rusak (roboh) di pos 2 dibiarkan begitu saja sudah lebih setahun.

Pokdarwis mungkin anggap pembuatan shelter bukan urusannya, tapi urusan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat. Pertanyannya, dikemanakan duit ratusan juta per tahun yang dipungut dari para pendaki?

Pokdarwis di Marapi jangan malu belajar pada Pokdarwis Seroja Talang dan Tandikek.

Mestinya Pokdarwis di Marapi paham prinsip atau asas pungutan retribusi mesti kembali sebagian secara langsung untuk kepentingan pendaki. Bukan dibagi-bagi ke kantong sendiri saja!

Berbeda halnya dengan pungutan pajak, itupun tetap dikembalikan pada pembayar pajak tapi secara tidak langsung, dalam bentuk pembangunan berbagai bidang.

Puncaknya, Pokdarwis Koto Baru mengalami konflik, dimana pecahannya mendirikan posko baru di jalur yang sama (jalur Koto Baru) di camping ground BKSDA. Posko baru ini sudah berjalan satu bulan ini.

Secata faktual, posko baru ini dikelola oleh Pokdarwis Batu Palano, yaitu jalur Batu Palano. Jalur ini dari Batu Palano tembus ke camping ground BKSDA. Jadi jalur Batu Palano bertemu jalur Koto Baru di camping ground BKSDA.

Tanpa mau tahu Posko Pokdarwis Batu Palano memungut retribusi baik dari jalur Batu Palano maupun dari jalur Koto Baru. Alhasil pendaki diminta bayar dua kali: satu kali di Posko Koto Baru dan satu kali lagi di posko Batu Palano.

Kebanyakan pendaki tidak mau ribut. Jadi terpaksa bayar dua kali.

Yang tak habis pikir, Posko Batu Palano tanpa rasa malu meminta lagi para pendaki, yang jelas-jelas sudah mendaftar dan membayar di posko Koto Baru, untuk kembali mendaftar dan membayar pada mereka. Dimana hari nurani Anda?

Makin kacau, pengelola posko Koto Baru tidak memberi tahu para pendaki agar tidak melayani permintaan pembayaran oleh posko Batu Palano. Jadinya banyak pendaki kaget ketika diminta daftar dan bayar lagi di posko Batu Plano.

Ironisnya, ada oknum personil posko Koto Baru yang menyarankan pendaki untuk bayar dua kali. Kacau dah!

Makanya, sore kemaren (7/11) penulis ajukan keberatan secara langsung dengan sangat keras pada posko Koto Baru agar meminta para pendaki yang telah mendaftar padanya untuk tidak melayani permintaan pendaftaran lagi di posko Batu Palano. Jangan malah pendaki disuruh bayar dua kali!

Saran saya pada dua posko ini, sampai ditemukan solusi permanen, supaya para pendaki tidak dipersulit, perlakukanlah pendaki dengan hormat, tidak dimintai daftar dan bayar dua kali. Biarkan pendaki lewat Koto Baru membayar sekali saja pada posko Koto Baru. Dan para pendaki yg lewat Batu Palano membayar sekali pada posko Batu Palano.

Prinsipnya, konflik pengelolaan posko pendakian tidak boleh merugikan tamu/para pendaki. Hargailah tamu, itu ajaran sejak nenek moyang dulu. Perlakukan pendaki sebagai manusia, bukan dilihat dari duitnya saja!

Bila melihat pendaki semata-mata hanya sumber "pitih masuak", uang masuk, maka seperti sekarang, pengelola posko tak mau kenal dengan pendaki, bahkan pendaki yang telah ratusan kali mendaki selama puluhan tahun, pun, mereka tidak kenal.

Penulis pribadi tak keberatan lewat jalur Koto Baru maupun Batu Palano, asalkan tidak dimintai daftar dua kali. Ini bukan sekedar soal uang, tapi soal kepatutan.

Poin-poin inti tulisan ini sudah penulis sampaikan langsung baik pada pengelola posko Batu Palano maupun posko Koto Baru, hari Jumat-Sabtu (6-7/11/2020).

Saran penulis kepada pihak-pihak yang berwenang, yakni Wali Nagari setempat cq. Bupati Tanah Datar dan Agam , BKSDA Sumatera Barat dan jajarannya, Polres Tanah Datar dan Agam serta jajarannya, untuk menyelesaikan konflik ini sebaik-baiknya agar tidak merugikan pendaki dan melahirkan potensi konflik fisik horizontal yang merugikan banyak pihak.

Salah satu alternatif solusi: tutup posko Pokdarwis Batu Palano dan kembalikan personilnya ke Posko Pokdarwis Koto Baru dengan perjanjian pengelolaan yang transparan, termasuk menyangkut pembagian dana yang diperoleh dari para pendaki, kapan perlu diaudit tahunan.

Apabila konflik ini tak berkesudahan, maka penulis sarankan Pemerintah Daerah cq. BKSDA Sumbar mengambil-alih pengelolaan jalur Koto Baru hingga puncak Marapi, dengan dana masuk jadi PNBP bagi negara, sedangkan warga eks pengelola posko setempat dapat jadi pegawai kontrak dengan kesepakatan gaji yang layak, disamping warga dapat pemasukan dari parkir kendaraan pengunjung. (***)

Komentar

Artikel Terbaru