Cuplikan Cerita Pilu Ketika Corona Mewabah

212 hit
Paskibraka Kota Padang Panjang Dikukuhkan

Syamsul Azwar

Wartawan/Walinagari Batang Barus Solok

PEMBACA yang budiman, Penulis adalah Wartawan Muda, saat ini diberikan kepercayaan Masyarakat Sebagai Wali Nagari Batang Barus Kabupaten Solok Sumba. Penulis mencoba mengurai kembali kisah kisah yang memilukan diberbagai negara yang diceritakan melalui media sosial (Medsos) dalam beberapa bulan terakhir, begitu ganasnya ancaman virus corona covid 19 ini. Ketika dunia semakin menua, corona juga begitu dahsyat membelenggu dan merenggut kebebasan duniawi. Ekonomi pun kian melumpuh berlalu berkubur bersama waktu. Banyak cerita pilu ditengah ganasnya ancaman Corona.

Dalam sekejap tak sedikit jasad yang bertumbangan. Ribuan nyawa melayang dalam sekejap. Entah berapa anak yang kehilangan ayahnya, istri-istri kehilangan suaminya, satu keluarga bertumbangan. Begitu dahsyatnya virus yang mematikan ini mengoncang dunia. Sadisnya, ketika diri telah positif terinfeksi, lalu memasuki ruangan isolasi, kala itu putuslah hubungan dengan orang orang yang disayangi. Tak lagi bisa berbagi suka dan duka, bahkan jika kematian menghampiri, proses penguburanpun cukup memiriskan.

Dokter dokter yang menangani pasien mulai berguguran, hari ke hari terus meningkat sosok yang rela mengorbankan nyawanya, demi menjaga jati diri profesi, bahkan perawatpun ikut menjadi korban, kisah kisah yang menyedihkan menjadi warna media sosial saat ini, bahkan masih juga banyak orang orang yang begitu berani menampilkan berita berita hoax. Bagaimana jika virus ini menggerogoti tubuh anda bagi para penyebar hoax.

Cerita pilu berawal dari Wuhan, banyak nyawa melayang, tak sedikit yang terinfeksi virus corona. satu keluarga dan keluarga lainnya bergelimpangan tak bernyawa. Kisah seorang anak satu keluarganya yang terinfeksi Virus ganas itu, awalnya ia hanya bisa menatap dari kejauhan penguburan jasad sang ayah, berlalu dalam tatapan hampa diantara tetesan air mata yang terus mengalir. Hingga berakhir dengan tumpukan tanah merah telah menelan lanyap jasad ayah malang itu.

Ia tak lagi bisa meronta, menangisi, meratapi serta memeluk jasad orang yang selama ini begitu berjasa pada dirinya, kini pria yang telah berkorban, membesarkan serta merawatnya penuh kasih sayang itu telah tiada, pedihnya saat saat terakhir satu pun keluarga tak lagi mendampingi saat ajal merenggutnya. Tak lama berselang, ibu dan beberapa saudaranya menyusul kematian bagaikan sebuah drama dalam cerita yang sama. Kemudian ia pun satu satunya gadis dari keluarga itupun menyusul kematian dirinya. Ini akan menjadi sebuah legenda dunia di sepanjang masa tentang ganasnya virus corona covid 19.

Ada Duka di Hari Bulan Madu

Kisah pilu lainnya telah melintasi benua, virus corona menyebar bagaikan kilat, dari negeri tirai bambu hingga ke negeri Kangguru, negara tetangga Indonesia ini memiliki sebuah cerita juga cukup memilukan.

Pasangan pengantin yang telah mamasuki hari hari bahagia, masa masa indah yang telah diimpikan berdua ternyata berobah menjadi sebuah duka, kebahagian itu sesaat direnggut paksa oleh Corona. Virus itu tak lagi pandang bulu pada siapapun atau negara manapun. Selain pasangan pengantin malang itu yang teringeksi, sebelumnya virus itu bergelayut berasal dari tamu undangan yang terinfeksi virus jahat itu.

Bagaikan kilat pesta suka ria dan penuh kebahagian itu telah berobah menjadi duka, hari hari yang sejatinya adalah bulan bulan manis yang akan menjadi kenangan indah selamanya. Kini cerita pilu itu berbalut tangisan tangisan dalam sebuah perjalanan hidup yang pahit, hanya nyawa saat ini yang mampu sebagai penawar virus corona bila telah bersarang kedalam raga. Kematian begitu cepat dan mudah direnggut Corona Covid 19.

Tak terasa hari kehari, bersama hembusan bayu menerbangkan, seiring gelombang laut yang menghatam karang sekan telah menyeret virus itu melintasi negeri katulistiwa, negeri yang selama ini dikenal indah dan berbudaya ini menjadi ancaman berat virus corona. Dokter dokter dan perawat satu persatu mulai bergugluran..

Niat tulus para dokter dan perawat dalam sebuah pengabdian tugas untuk rakyat dan negara telah menganti dengan nyawanya. Dari hari ke hari terus bertambah. Keelokan dan kedamaian Indonesia telah diporak porandakan corona. Tidak saja menjadi sebuah ketakutan, ekonomi pun dalam waktu singkat menurun tajam. Medsos telah didominasi kasus kasus corona yang kian viral.

Memandang Keluarga Jelang Kematian

Kisah dokter muda yang masih sempat memandang putri putri dan istri tersayangnya yang tengah hamil muda jelang ajal menjemput. Ia mungkin telah menyadari bahwa virus pedemi Corona juga telah bersarang di tubuhnya.

Ceritanya Ia usai menangani serta membantu menyelamatkan pasien virus positif Corona, ia kembali kerumah, namun ia tak masuk ke dalam rumah, dokter muda Hadio Ali Khazatsin melalui informasi medsos hanya berdiri di pintu pagar halaman depan rumahnya.

Photonya diabadikan kala ia menatap anak anak dan istri yang dicintainya. Mulutnya mengenakan masker, ia menatap istri dan buah hati tersayangnya. Entah apa yang ada dalam fikirannya kala itu, usai menatap putri dan istrinya yang tengah hamil muda mengandung buah hatinga, diyakini ia berlalu sambil melayangkan seuntai sebyuman dan lambaian terakhir tangannya yang selama inj selalu menggendong buah hatinya itu.

Dokter muda ini berlalu meninggalkan duka yang cukup mendalam bagi keluarganya. Ia dirawat dalam ruangan isolasi sampai ajal menjemput. Bahkan penguburanpun tak lagi bisa disaksikan istri dan anak. Padahal mereka sangat membutuhkan kehadiran seorang suami dan ayah bagi anak anaknya. Selamat jalan pahlawan Corona, semoga dirimu pergi dalam sahid dan husnul khotimah. Sebab dirimu wafat setelah berjuang untuk rakyat dan negaramu.

Ketika Italia Meremehkannya

Sebuah kisah yang patut menjadi sebuah pembelajaran kita bersama, ketika warga Italia memandang remeh corona. Mayat mayat terus begelimpangan, para dokter, perawat dan tenaga tenaga yang progesionalpun telah bertumbangan. beberapa kota besar telah ditetapkan lockdown, masyarakat terisolasi dan dihantui saat ajal kian terus mendekat.

Meski penyesalan telah tiba atas sebuah ungkapan meremehkan tak lagi berarti. Awalnya mereka tak peduli, tak begitu hirau dengan Corona yang sedang mengoncang dunia. Kini negara spaghetti itu daerah terparah dengan membayar ribuan nyawa untuk sebuah kata yang tak peduli. Penyesalan lenyap diantara mayat mayat yang berserakan setiap harinya.

Mari Putus Mata Rantai di Ranah Minang

Cerita di atas semoga menjadi pembelajaran kita bersama di Sumatera Barat. Mari kesampingkan dulu ungkapan bila tak ajal berpantang untuk mati. Ranah bundo pun tengah terancam, masyarakatpun semakin dirundung resah dan gelisah berkepanjangan.

Tak cukup hanya pemerintah yang mengambil peran dan kebiijakannya, perlu gerakan bersama semua lapisan masyarakat untuk bertekad memutus mata rantai penularan virus ganas itu. Tanpa alasan kita konsisten melaksankan himbauan/edaran/Maklumat pemerintah dan ulama yang kita percaya.

Sehingga kita sangat berharap Gubernur sampai ke Bupati serta jajarannya dapat mengambil langkah langkah yang tepat. Mari kita selalu memberikan kepercayaan serta pandangan positif pada para pemimpin kita untuk mengambil kebijakan yang tepat. Abaikan politik, tak adalagi kecurigaan, jangan berikan pandangan negatif, dengan kebersamaan kita semoga, corona yang tengah bersiap melumat rakyat ranah bundo ini bisa teratasi bersama.

Sebab saat ini tak ada lagi waktu untuk sebuah perdebatan para elit, para pengambil kebijakan, para politisi dalam satu kesatuan diantara perbedaan, bersama kita gerakkan stop penularan Corona di ranah bundo tercinta ini.

Sebelum butiran butiran penyesalan menyelimuti kehidupan kita hingga ajal menjemput. Meski masalah ekonomi sangat menjadikan dampak dari Corona yang sedang melanda. Namun penurunan ekonomi itu juga takkan sebanding bila harus dikorbankan dengan nyawa keluarga besar kita.

Semoga tulisan ini, walapun sedikit dalam penggalan huruf yang dieja mejadi kata dan terungkai dalam kalimat kalimat hati dapat mengetuh hati kita, dapat membuka cara berfikir kita bersama untuk mebyelamatkan diri kita, istri, suami, anak serta karib kerabat yang kiya sayangi.

Betapa rindunya kita pada masa masa lalu bebas dan tak terkekang kemanpun kaki ini melangkah. Kini Corona telah menguji jiwa jiwa untuk sabar, mengekang raga dan kaki kita. Hanya itu yang bisa dilakukan saat ini, sebab penawar virus ini masih belum ditemukan dan dipastikan mampu menangkar Corona yang terbilang ganas itu.

Malam malam dalam renungan, tak pernah terlintas dalam angan bila hari-hari yang datang menejelang adalah hari hari sepi dalam ketakutan dan kegelisahan. Tak jua pernah terbayangkan kala masa masa suram itu akan datang menjelma oleh Corona semoga Allah. SWT segera membasmimu, amiin.

Meski secara kultur Ranah Minang dikenal sebagai daerah yang dikenal masyrakatnya santun dalam bergaul, ramah dalam bertutur serta hobi berkumpul dari lapau ke lapau, untuk sesaat harus merelakan demi Memutus mata rantai Corona, lebih banyak di rumah dan tak lagi berjabat tangan dalam setiap pertemuan, mengurangi kerumunan dan keramaian, mengekang sebuah kebebasan dan mengurangi berkumpul dari lapau ke lapau. Jelang pemerintah betul betul mengumumkan kondisi aman san kondusif. Salam Cinta Untuk Ranah Minang.

Meski tulisan pendek ini diangkat dari hasil perkembangan medsos seputar Corona, semoga memberikan sedikit inspirasi untuk kita dalam melawan dan penyebaran virus corona covid 19. (***)

Komentar

Artikel Terbaru