Benarkan Peran Niniak Mamak Semakin Luntur di Minangkabau?

1111 hit
Paskibraka Kota Padang Panjang Dikukuhkan

Gusdiana Oktavia

Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas

NINIAK MAMAK mempunyai kedudukan adat yang lebih tinggi dibanding jabatan lainnya yang ada dalam masyarakat, karena niniak mamak merupakan tempat sandaran dan tempat bertannya tentang sebagai permasalahan yang dihadapi warga dalam suatu nagari. Niniak mamak sebagai orang yang di tua kan dalam kaum yang mana orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting bagi masyarakatnya.

Niniak mamak adalah seorang yang diangkat sebagai pemimpin adat oleh kaum atau suku dalam suatu nagari,yang mana peran niniak mamak ini membimbing anak kamanakannya. Memelihara dan mengembangkan harta pusaka serta mewakili keluarga urusan keluar. Yang mana bisa kita lihat dari ungkapan "Kaluak paku kacang balimbiang, daun bangkuang lenggang lenggangkan, anak di pangku kamanakan di bimbiang, urang kampuang di patenggangkan".

Mamak berkewajiban dalam membimbing kamanakannya dalam bidang adat, bidang agama dan perilaku sehari hari, kalau kamanakan melakukan kesalahan disisi lain yang akan malu mamak sebagai saurang pamipin, mamak nan dikabuang, tibo dimato indak bamiciangan, tibo di paruik indak dikampihkan tibo didado indak di busungkan. di ibaratkan sebagai kayu gadang dari pemanakannya di tangah koto,ia menjadi pelindung kamanakannya, seorang mamak adalah penegak hukum yang adil.

Niniak mamak ini sebagai pemegang sako datuak secara turun temurun menurut garis keturunan ibu dalam sistem matrilineal.

Seiring perubahan zaman dan perubahan gaya hidup yang semakin individualis yang mana dulu berdasarkan kebersamaan dan musyawarah dan berdampak kepada pola pikir masyarakat. Sekarang kurangnya komunikasi antara niniak mamak dan masyarakat kaum yang mana dahulunya sangat kental perlahan mulai berangsur hilang.

Niniak mamak tidak lagi di fungsikan sebagai "pai tampek batannyo pulang tampek babarito yaitu sebagai pembimbing bagi anak kamanakannya. Oleh karena itu komunikasi antara niniak mamak degan masyarakat penting di jaga untuk mempertahankan kepemimpinan niniak mamak di minangkabau, dalam menjalin komunikasi antara niniak mamak dan anak kamanakan dalam masyarakat minangkabau, anak kamanakan yang harus terlebih dahulu bertanya dan meminta pendapat ketika ada permasalahan yang sedang di hadapi baru setelah itu niniak mamak yang mencarikan solusi atau jalan keluarnya.

Kamanakan harus terlebih dahulu minta pendapat kepada mamak dan jika mamak juga sudah tidak sanggup memberikan solusi baru lah mamak memintakan solusi kepada niniak mamak desuai degan falsafah minangkabau yang berbunyi "anak barajo ka mamak mamak barajo kapanghulu.

Niniak mamak sebagai urang nan gadang basa nan batuah ditengah masyarakat sewajarnya memiliki pengetahuan yang luas khususnya dibidang adat sehingga apa pun permasalahannya yang terjadi dalam negri bisa diselesaikan di lembaga adat tanpa harus membawa ke pengadilan negri yang merupakan istansi pemerintah yang mestinya tidak berwenang dalam menyelesaikan permasalahan adat. Sulitnya mencari atau memilih niniak mamak yang berpotensi juga menjadi salah satu faktor penyebab pudarnya wibawa niniak mamak di tengah masyarakat baik dampak positif maupun negatif yang telah merubah hidup masyarakat.

Batas batas pergaulan dan pandangan hidup dan norma norma yang membentuk kaidah sosial di masyarakat dan itu juga menimbulkan bentur benturan nilai yang menggoyahkan landasan adat yang kemudian yang berimbas di berbagai sektor kehidupan baik. Dan dapat juga kita lihat di kehidupan merantau yang tidak terjangkau hukum adat juga mempengaruihi penghargaan terhadap niniak mamak karena perantau minang tidaklah sama dengan hakekat perantau pada tempo dulu.

Banyak ditemui perantau Minang yang telah berkeluarga yang menetap di luar Minangkabau sehingga pulang ke ranah minang hanya pengisi waktu libur dan rekreasi sehingga wajar saja kalau gaya hidupnya maupun karakter dan gaya sikap mentalnya sudah dibentuk oleh budaya dimana ia tempat menetap.

Niniak mamak harus menjadi pemimpin informal dalam menananmkan pandangan kehidupan,niniak mamak juga punya kewajiban untuk mengayomi melindungi dan mengurus anak kamanakan dan sebaliknya kamanakan juga punya hak untuk diurus oleh niniak mamak,niniak mamak juga harus bisa menjaga martabatnya karena gelar datuak yang di sandangan adalah gelar disisi lain niniak mamak juga mempunyai hak untuk di hormati dan di anjung tinggi oleh anak kamanakannya dan kewajiban kaum untuk menjaga wibawa niniak mamak di tengah tengah masyarakat.

Pada masa kini banyak yang bisa kita lihat peranan niniak mamak tidak lagi di dipentingkan sehingga niniak mamak hanya di pandang sekedar gelar yang disematkan kepada seseorang namun tidak lagi mempunyai pengaruh terhadap masyarakat yang dipimpinya . Dan komunikasi ini yang sekarang jarang kita jumpai di masyarakat karena sudah pada mulainya rasa menghargai tadi terhadap niniak mamak tadi sudah memudar.

Banyak faktor yang mempengaruhi wibawa niniak mamak yang mana ada faktor internal yang muncul dari kepribadian niniak mamak itu sendiri ada juga faktor eksternal dari lingkungan. Namun faktor yang paling mempengaruih sikap niniak mamak di tengah masyarakat adalah kondisi dari adat itu sendiri.

Adat yang tidak lagi di pertimbangkan masyarakat sehingga kehilangan potensi untuk menata kehidupan masyarakat yang semakin moderen. Dalam waktu yang panjang pasti ditemui pasang surut kehidupan adat dalam masyarakat karena emang begitu hukum seleksinya alam. Kita dipaksa tunduk dengan kenyataan sebagai kebiasaan kehidupan namun sudah semestinya masyarakat minangkabau melestarikan adat dan tumbuh kembangnya di tengah tengah masyarakat sebagai warisan budaya bangsa untuk sekarang dan seterusnya.

Maka sewajarnyalah kita benahi hal hal yang berkaitan degan itu terutama dalam menjaga wibawa kepemimpinan niniak mamak yang menjadi tiang menyangga dari adat itu sendiri. ***

Komentar

Artikel Terbaru